Skip to content

Merry: Sedikit tentang ganja dan distopia.

Teruntuk Prémí Hévana

Oo-ooh...
We're in the middle of disease
Unexpected mother crisis
Would you be
Would you be
Merry alone
Alone with me?

Penggalan lirik lagu Merry Alone, oleh Stars and Rabbit.

Sebelum tulisan ini kubuat, aku dikuasai oleh rasa bosan dan kesal yang lumayan menjengkelkan.

Betapa tidak, karena beberapa jam sebelumnya teman-temanku asik mabar setelah kami nggoreng bersama. Sementara aku yang bukanlah gamer, menyibukkan diri dengan mengurusi aset-aset digitalku. Lalu, selembar stensilanku robek saat aku mencorat-coret sebuah tembok di pinggir jalan sebelum pulang ke rumah. Ditambah lagi, karena satu hal, aku harus menyelesaikan pemindahan data dari peramban lama ke peramban baru di laptopku.

 

Setelah set-up peramban baru selesai, ku bakar sebatang samsu. Bad-mood membuatku enggan melinting tembakau soppeng di sebelahku. Youtube pun ku buka. Ku hisap rokok sambil menyaksikan video-video musik pada layar di depanku tanpa gairah, hingga gilirannya lagu tersebut terputar dan tiba pada reff-nya, yang kontan mengingatkanku pada sebuah percakapan kita via pesan instan.

 

“Emangnya gak bisa ngerasa bahagia tanpa make ganja?” kira-kira begitu lah tanyamu kala itu.

Tentu saja bisa. Pun tanpa metamfetamin atau digit yang banyak di dalam akun bank-nya, manusia tentu dapat bahagia dengan caranya masing-masing, atau pun dengan cara dan kehendak semesta.

 

Kita bisa tertawa terbahak hanya karena sebuah meme. Seseorang bisa merasa bahagia karena ucapan terima-kasih yang tulus dari orang lain yang telah dibantunya. Bahkan, berkhayal pun seringkali mampu membuatku menyeringai puas.

Tapi perlu kita akui, tidak lah mudah untuk mengendalikan pikiran dan perasaan kita sendiri. Tak jarang, disaat kita sedang berada di titik rendah yang agak dalam dan mencoba untuk ceria, belum tentu kita akan serta-merta menjadi ceria, sekeras apapun usaha kita untuk menghibur diri, untuk menipu diri sendiri. Pada titik ini, acapkali bantuan dari luar diri dibutuhkan. Perlu stimulan. Entah itu berupa konseling, atau pun napza.

 

Dan bagiku, ganja adalah stimulan yang baik untuk melampaui titik tersebut. Untuk setidaknya mampu membuatku tersenyum dan berpikir positif tentang keadaan sekitar, sementara beberapa stimulan lain tidak jarang hanya memberi ketenangan & kesenangan sesaat, yang kemudian digantikan dengan bibir yang cemberut dan pikiran negatif terhadap sekeliling.

 

Tentu kamu mengerti betapa depresif-nya zaman postmodern ini, yang mana tengah diperparah oleh Covid-19. Mungkin, bagi banyak orang saat ini, tertawa riang gembira adalah hal yang mereka rindukan, karena nampaknya keadaan membuat mereka tak sanggup bahkan hanya untuk tersenyum sekali pun.

 

Biarlah ini menjadi pengingat, setidaknya bagi diriku sendiri, bahwa bila memang kekesalan dan amarah memadam, tidak ada salahnya untuk menghadapi suatu kehancuran dengan keriangan. Karena tidak ada bocah yang melempar benda yang ada di genggamannya sambil bersedih.