Skip to content

Merry: Sedikit tentang ganja dan distopia.

Teruntuk Prémí Hévana

Oo-ooh...
We're in the middle of disease
Unexpected mother crisis
Would you be
Would you be
Merry alone
Alone with me?

Penggalan lirik lagu Merry Alone, oleh Stars and Rabbit.

Sebelum tulisan ini kubuat, aku dikuasai oleh rasa bosan dan kesal yang lumayan menjengkelkan.

(Continued)

Semiotika Romantika: Ode untuk Seorang Binor dan Elegi Polyamory

“Meski rumit, aku ingin mencintaimu.”
~ Senartogok

 

Sungguh, aku tak menyangka sudah selama itu. Empat tahun. Waktu begitu cepat berlalu, hingga kau juga yang menyadarkanku bahwa sudah 4 tahun kau menghilang dariku.

“I’m a mom with 2 kids now,” balasmu ketika aku menanyakan balik kabarmu. Aku tidak terlalu terkejut, mengingat bibir salah satu dari dua bocah pada foto profil WhatsApp yang kau gunakan untuk menghubungiku siang lalu, mengingatkanku pada senyummu.

“Yang pertama cowok, mau 4 tahun. Yang kedua cewek, mau 2 tahun,” jelasmu setelah sebelumnya memberitahuku nama lengkap kedua malaikat kecil itu.

People change,” kata orang. Begitu pun dirimu.

(Continued)

Sebuah pembelaan terhadap orang-orang yang tidak mau berkembang

Pleidoi: Terima kasih, Devina.

Reblogged di WordPress sebelum akhirnya migrasi kesini.

Salah satu konten yang laku di media sosial saat ini adalah yang memotivasi perkembangan diri. Istilah singkatnya: inspiring (boleh pakai tagar maupun tidak).

Konten-konten motivational ini banyak memuat pesan-pesan positif seperti: cintai diri sendiri, terus berkembang sebagai manusia, dan pada akhirnya, kamu bisa meraih mimpi. Banyak variasinya, tapi intinya satu: hidup kamu sekarang tidak sempurna, banyak kesusahan yang mesti kamu lalui, tapi teruslah bertahan dan berusaha, maka kamu akan bisa hidup bahagia, lalu menengok ke belakang dan berpikir bahwa semua penderitaanmu akhirnya terbayar, tidak lupa dengan senyum tiga jari seperti para influencer di Instagram.

Masalah saya dengan pesan-pesan seperti itu adalah premis bahwa kalau kamu tidak bahagia dengan hidupmu sekarang, ada yang salah dengan dirimu dan hidupmu. Bahwa kamu harus berubah, harus bekerja lebih keras dan meraih mimpi. Bahwa sebagai manusia, kamu harus berkembang.

(Continued)

Belajar dari kematian.

Kami berempat tengah duduk berdekatan pada kursi plastik di teras. Aku, sepupuku, dan dua pria paruh baya: yang lebih tua adalah salah seorang teman dekat tuan rumah, dan yang lebih muda adalah adik bungsu tuan rumah. Sementara sang tuan rumah—adik ipar ayahku—terbaring tenang di dalam peti mati di ruang tengah. Kedua pria tersebut diperkenalkan secara singkat dihadapanku oleh nyonya rumah, bibiku.

(Continued)

Semiotika Romantika: Gelas Retak

Sepasang kekasih gelap duduk berdampingan, merajut kenangan pada sedikit kesempatan.

“Bagaimana bila ada diantara orang-orang di depan sana yang mengajakku berkenalan? Apa kau akan memarahinya?” tanya yang pertama.

(Continued)

Sabda Jumat

“Ini aja dia yang nyiptain yaa..?” ucapnya seraya menunjuk langit.

“Iya..” jawabku singkat.

“Tapi yang beruntung Islam ya, bisa mendapatkan ini semua..” lanjutnya.

Aku terdiam sejenak, menatapnya, yang balas menatapku. Lalu aku kembali menghisap rokokku. Pelan dan dalam..

(Continued)

Sepenggal sendu bersama ayah..

Dua botol bir menjadi penutup diskusi penuh racauan malam ini. Setelah meletakkan botol kosong di sebidang tanah yang menjadi tempat tumpukan sampah, aku bergegas ke rumah. Kubuka pintu dan kudapati ayahku masih terjaga, tengah menonton televisi.

(Continued)

Sekilas tentang televisi, moralitas, dan polisi.

“The only important thing on the television is the switch-off..”

– unknown

Sudah sekitar 5 tahun belakangan ini minatku menonton televisi jauh berkurang, karena aku (baru) menyadari bahwa sebagian besar—jika tidak dapat dikatakan seluruhnya—acara dalam kotak tersebut hanya menyajikan kekonyolan dan omong-kosong belaka.

(Continued)

Hujan di bulan Desember: Air Mata.

Sepatutnya kuucapkan terima kasih yang sangat pada Tarjo. Karena melalui senartogok, dia telah meyakinkanku agar tidak lagi merasa malu untuk menangis. Membuatku berhenti beranggapan bahwa menangis hanyalah untuk orang-orang yang lemah sedangkan aku begitu tegar dalam menghadapi kebrutalan hidup.

Terima kasih telah membantuku kembali menjadi manusia.

(Continued)

Banal: mengenai rutinitas dan asmara..

“I was alone,

falling free,

trying my best not to forget.”

– Placebo.

Sebagian besar, pagi yang kulalui selagi aku meneruskan hidup sebagai parasit keluarga adalah pagi yang suram. Terbangun dengan keengganan untuk beranjak dari kasur dan kebingungan untuk melakukan apa setelahnya, sementara sebagian besar manusia lain yang berada di zona waktu yang sama denganku sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing: sekolah, kerja, berolah-raga, berbenah rumah, mengurus ternak. Dan kebanyakan pagiku yang demikian kuakhiri dengan berbenah: sekedar mencuci muka dengan sabun khusus muka dan menyikat gigi—namun tidak berbenah diri—untuk kemudian melangkahkan kaki ke tempat dimana sebagian besar waktu hidupku beberapa tahun belakangan ini kuhabiskan bersama teman-temanku: berbincang, bercanda, mabuk. Membuang tiap detik masa muda kami dengan percuma, begitu pasti menurutmu.

Karena bukankah menurutmu mereka yang menyalahgunakan obat-obatan adalah idiot?

Namun ada yang sedikit berbeda pagi itu. Satu dari sedikit pagiku yang kuhabiskan tanpa tidur hingga pagi terganti siang, senja, bahkan malam.

(Continued)