Skip to content

Benih-benih itu tumbuh subur, terus ditanami hingga tanahnya berpijak pun tandus.

Untuk Elis, yang telah memanipulasi imajiku.
Untuk Molly, Ocha, mungkin juga Ella, Tika, dan Eru,
yang telah sudi mendengarkan.
Dan untuk Firda; yang telah menyerah;
bersiap menjadi seorang ibu,
di usianya kini yang belia.

“Nomer lama?”

“Iya. Kok tau?”

“Dulu kan aku hafal nomer kamu ini. Jadi agak inget gitu deh..”, jelasnya.

~

“Kenalin dong sama pacarnya..”

“Aku gak punya pacar.”

“Masa? Kenapa? Belum ketemu yang cocok?”, tanyaku tak sabar.

“Iya. Bukan masalah cocok atau gak cocoknya gitu.. Gak ada niat ajah buat pacaran lagi.”

“Lah, kok bisa?”

“Gak penting kok pacaran..”

“Haha.. Terus, langsung nikah aja gitu tanpa pengenalan yang mendalam melalui pacaran?”

“Gak niat juga buat itu.”, jawabnya ringan.

~

“Kamu gak mau punya keturunan?”

“Maksudmu, anak kandung? Anak yang terlahir dari mani sang ayah melalui rahim sang ibu dalam suatu ikatan pernikahan?”

“Ya, kira-kira seperti itu..”

Waktu terasa begitu lama setelahnya.children

Berulang-kali, kupastikan pesan singkatku padanya telah benar-benar terkirim..

“Anak hanyalah pelengkap kebahagiaan orang-tua. Namun, status ‘kandung’ pada si anak lah yang menjadi permasalahan bagi manusia. Bagiku, status tersebut hanya memperkuat kebanggaan pribadi dan arogansi si orang-tua (tidak menutup kemungkinan bagi keluarga besar si orang-tua) yang bersangkutan.

“Toh, masih banyak anak terlantar yang patut diurus, dibesarkan, disayangi layaknya seorang anak kandung. Ketimbang berlomba menciptakan manusia baru yang rentan memperparah kondisi bumi saat ini kelak.”, lanjutnya melalui pesan singkat berikutnya.

2 Comments

  1. araaminoe wrote:

    Ijin copy dgn beberapa perombakan, boleh?

    Friday, December 20, 2013 at 13:42 | Permalink
  2. velmonth wrote:

    Silahkan. Copy-left..

    Wednesday, December 25, 2013 at 19:00 | Permalink