Aku tak tahu sejak kapan tepatnya si bapak duduk menanti di sana. Di atas vespa birunya, di pinggir jalan di depan sebuah rumah makan, seorang diri. Dengan barang bawaan disusun sedemikian rupa agar dapat dibawa dengan vespanya tersebut.
Ada semacam tripod disana.
Berdasarkan informasi dari temanku, si bapak sudah di sana selama 1-2 jam. Menanti si pemilik rumah makan rupanya.
Tak lama sebelum ia tiba, si pemilik rumah makan baru saja pergi. Dan tripod yang ku lihat sepertinya semacam rangka tenda untuk makan, seperti tenda yang biasa kita jumpai di pelataran tempat makan kaum urban. Jadi itu penyebab si bapak tersebut di sana.
Si bapak mengambil handphonenya dari saku dan mulai menelepon. Dilihatnya lagi handphonenya, lalu ditempelkannya lagi ke telinga. Diulanginya lagi dan lagi.
Ia kembali duduk di atas vespa birunya. Mengamati jalanan yang mulai memadat. Ia tertunduk, lalu memejamkan mata. Ditautkannya kedua telapak tangannya layaknya umat nasrani sedang berdoa. Entah berapa kali ia melakukan itu. Tertunduk, memejamkan mata, dan menautkan kedua telapak tangan.
Ketika jalanan sudah benar-benar padat, sebuah mobil tua mulai merayap sekitar 5 meter darinya. Mobil tua yang dikendarai oleh seorang bapak yang tidak kalah tuanya; penuh uban, keriput, dan bentuk bibirnya kala menjepit rokok yang menegaskan ketiadaan gigi-gerigi di dalam mulutnya.
Si bapak bervespa biru mengamati mobil tersebut. Tertarik. Kagum mungkin. Dijulurkannya kepalanya kesana kemari dengan harapan dapat melihat lebih jelas logo atau jenis mobil tersebut pada bagian depannya. Hal itu membuat risih seorang pengguna sepeda motor yang menghalangi pandangan si bapak. Aku lihat gelagatnya.
Tak lama kemudian, si bapak menghampiri kami, aku dan teman-temanku yang sedang ngopi. Beliau nimbrung menyaksikan permainan catur temanku.
Mungkin si bapak lelah, mungkin juga bosan. Mungkin juga aku yang terlalu lemah untuk menjadi diriku seutuhnya, untuk mengajak si bapak bergabung terlebih dahulu sebelumnya.
Lewat pukul 6 sore, kala langit makin gelap, si pemilik rumah makan baru tiba.
“Saya pikir gak datang”, serunya kepada si bapak setelah memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempatku berada.
Taik, batinku.