Skip to content

Reggae101: Reggae gak musti baganjo, yang penting begayo.

“Come and take a look out through my eyes

And you decide, why people act this way?

People thieving, fighting, telling lies

They critize and hate each other..”

~ Steven & Coconut Treez.

 

Generasi muda negara ini, saat ini, sedang menggilai reggae. Dapat dikatakan mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah lah yang mendominasi. Ya, itu lah yang dapat kusimpulkan berkat pergaulanku dengan mereka yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA saat ini dan media sosial. Dan juga TVRI yang menyiarkan secara langsung gebyar musik reggae dalam rangka ulang-tahunnya yang ku tonton di sebuah warung kopi malam itu.

Namun yang kusayangkan dari fenomena ini, sungguh kusayangkan, tidak banyak perubahan berarti dalam diri kebanyakan dari jiwa-jiwa muda tersebut untuk peradaban yang lebih baik. Untuk menyembuhkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan mereka yang semakin sakit tergerus oleh modernitas.

Bukan hanya karena tidak sedikitnya lagu dari band reggae yang sedang naik daun saat ini, yang melulu hanya berkisah tentang romansa dunia remaja semata (sekali pun harus kuakui, beberapa diantaranya memang cukup bagus secara musikalitas menurutku); terlebih para penggemarnya yang dominan remaja, seperti yang kusebutkan tadi.

Apa yang membuat mereka terkesan begitu menggilai merah, kuning, dan hijaunya Jamaika?

Apakah petikan gitar dan dentangan jimbe yang begitu menggoda raga untuk bergoyang (terlebih di bawah pengaruh psikoaktif murah)? Ataukah gaya hidup dengan kesan sederhana ala scooterist yang identik dengan reggae?

Rasa ini memuncak, ketika ku dengarkan “Kau dan Warnamu” milik Amtenar.

Apakah para rastaman (atau apalah sebutannya) karbitan tersebut menyadari pesan yang tersirat dalam lagu tersebut untuk tidak rasis? Apakah mereka sadar, dan benar-benar menerapkan untuk tidak menilai seseorang dari penampilannya, yang disampaikan Momonon dalam barisan awal lirik “Rambo itu Romeo”-nya?

Hanya segelintir, kurasa..

Terbukti dari tidak sedikitnya teman-teman remajaku, mereka yang memperkenalkanku pada dunia musik reggae dalam negeri kini, yang tetap kerap diskriminatif terhadap minoritas. Baik itu dari segi suku, warna kulit, bahkan agama.

“You can see Christians, Jews, and Muslims

Living together and praying amen..”

– Alpha Blondy –

Di lain kasus, salah seorang remaja (dari tidak sedikitnya) yang menggunakan embel-embel ‘rastafariana’ dan semacamnya pada akun facebooknya, yang juga merupakan seorang ‘jakmania’, saling mencaci dengan seorang ‘viking’ tanpa alasan yang jelas..

Sungguh malang Bob Marley.

“We’ll free the people with music” ~ Bob Marley

Terlebih ketika salah seorang musisi yang cukup diidolakan banyak dari remaja tersebut tampil di panggung ulang tahun TVRI malam itu, “NKRI” tersablon cukup besar pada depan kausnya. Hal yang kusayangkan. Walau memang ku menyukai beberapa lagunya, namun perihal sablonan kausnya tersebut menjadi satu poin kurang dariku untuknya).

Memang, aku lupa bagaimana tepatnya kalimat yang tertulis sebagai pelengkap “NKRI” tersebut. Yang pasti kuingat, kalimat tersebut hanya akan menumbuhkan nasionalisme yang dapat berujung pada jingoisme. Yang kutakutkan, makin banyak lahir sauvinis dari jiwa-jiwa yang rapuh nan bigot para remaja bangsa ini kini.