Skip to content

Kerja: Karena bermalasan adalah hak istimewa segelintir manusia.

“Nobody dies as a virgin. Life fucks us all.” ~ Kurt Cobain.

 

Kerja.. Betapa memuakkannya hal itu bagiku.

Yang kumaksud kerja disini jelas, melakukan suatu kegiatan untuk mendapatkan uang, yang kelak akan digunakan untuk melanjutkan hidup: membeli makan, minum, pulsa seluler; membayar tagihan listrik, cicilan motor, mobil, atau pun rumah; menimbun harta demi meningkatkan status sosial dalam masyarakat atau pun sekedar bertahan menjauhi predikat ‘miskin’ atau mungkin bertahan untuk tetap hidup menghindari kematian.

Bangun di pagi hari, sementara kepalamu masih terasa sedikit pusing akibat alkohol di rumah temanmu semalam yang terpaksa kau tinggalkan bersama teman-temanmu yang lain karena kau harus bangun pagi-pagi untuk bekerja. Tidakkah itu memuakkan?

Bangun di pagi hari, sementara kau pulang larut semalam karena atasanmu menuntut pekerjaan yang sedang kau tangani untuk selesai secepatnya, untuk kembali berangkat bekerja. Bangun di pagi hari, sementara demam menyerang tubuhmu akibat kehujanan sewaktu pulang kerja atau kakimu sedang keseleo akibat terburu-buru turun dari bis kota saat pulang kerja kemarin, untuk kembali bekerja karena gajimu akan dipotong bila kau tak masuk kerja meski surat dokter kau serahkan pada bosmu. Bangun di pagi hari, sementara anakmu atau orang-tuamu yang sudah renta kerap kesepian di rumah karena kesibukanmu bekerja, untuk berangkat kerja. Atau ketika kau menahan kantuk disela waktu kerjamu menjelang atau sesudah makan siang..

Tidakkah itu semua begitu memuakkan?!

Itu lah yang kurasakan tiap kali ku harus membuka mata di pagi hari, kadang terpaksa menyudahi mimpi yang sedang ku saksikan walau samar, untuk bekerja. Untuk kembali melacurkan diri pada modernitas yang kian laknat, yang telah menjadi candu bagi hidupku.

Terkadang, aku iri pada teman-teman yang memutuskan untuk (tetap) hidup di jalanan. Mereka tak perlu dihantui tetek-bengek rumit untuk memenuhi standar masyarakat. ~ Erwind.

Bukan hal mudah untuk bangun di pagi hari, bila kau telah terbiasa menjadi seorang nocturnal. Namun sebaliknya. Tak sulit untuk melewatkan satu hari dengan tidur sepanjang pagi, sekali pun matamu telah terbiasa terbuka pada pagi hari karena keharusan untuk bekerja yang telah berlangsung selama menahun.

Memang selayaknya, manusia menghabiskan lebih banyak waktu hidupnya untuk tidur. Untuk bermalasan. Akui lah itu. Namun kenyataannya, atas nama perkembangan jaman, uang telah memperkosa kita. Merampas waktu tersebut dari kebanyakan-dari-kita. Memaksa kita menekan tombol pause pada mimpi kita ── seburuk apa pun itu ── untuk kembali menghadapi realita dan kembali bekerja. Mengubah kebanyakan dari kita, manusia modern, menjadi robot pekerja yang memiliki emosi, yang makin didominasi oleh benci, tamak, dan arogansi.

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan bangun di pagi hari. Justru kau dapat menikmati lebih banyak waktu hidupmu karenanya. Menikmati hidup. Merasakan kebebasan. Menertawakan dan menikmati terik mentari pagi yang tetap bekerja pada porosnya bersama teman, tetangga, atau keluargamu. Atau sekedar berjalan-jalan di taman dan berbincang dengan siapa pun yang kau temui disana.

Tanpa bekerja.

Tanpa perlu melakukan sesuatu yang sebenarnya kau lakukan tanpa keinginanmu yang benar-benar tulus.

Bangun, bekerja, pulang, dan tidur. Untuk kemudian kembali bangun, menunda mati.