“I was alone,
falling free,
trying my best not to forget.”
– Placebo.
Sebagian besar, pagi yang kulalui selagi aku meneruskan hidup sebagai parasit keluarga adalah pagi yang suram. Terbangun dengan keengganan untuk beranjak dari kasur dan kebingungan untuk melakukan apa setelahnya, sementara sebagian besar manusia lain yang berada di zona waktu yang sama denganku sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing: sekolah, kerja, berolah-raga, berbenah rumah, mengurus ternak. Dan kebanyakan pagiku yang demikian kuakhiri dengan berbenah: sekedar mencuci muka dengan sabun khusus muka dan menyikat gigi—namun tidak berbenah diri—untuk kemudian melangkahkan kaki ke tempat dimana sebagian besar waktu hidupku beberapa tahun belakangan ini kuhabiskan bersama teman-temanku: berbincang, bercanda, mabuk. Membuang tiap detik masa muda kami dengan percuma, begitu pasti menurutmu.
Karena bukankah menurutmu mereka yang menyalahgunakan obat-obatan adalah idiot?
Namun ada yang sedikit berbeda pagi itu. Satu dari sedikit pagiku yang kuhabiskan tanpa tidur hingga pagi terganti siang, senja, bahkan malam.
Sekitar pukul 5 aku terbangun pagi itu. Padahal hanya sekitar satu setengah jam sebelumnya aku baru dapat merasakan kantuk yang cukup berat. Tidur yang lelap namun singkat, dampak dari obat penenang yang kusalahgunakan pada malam sebelumnya. Terbangun dengan kesegaran yang lebih bila dibandingkan saat terbangun tanpa mengkonsumsinya sebelum tidur. Namun tetap, dengan kebingungan untuk melakukan apa kemudian.
Aku duduk di kasur. Termenung sejenak. Mengecek ponsel, lalu memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku bersiap, lalu bergegas, berjalan membeli sarapan, tak jauh dari rumah.
Entah sekali atau dua kali aku terbangun saat aku kembali melanjutkan tidur seusai sarapan, sampai aku benar-benar bangun antara pukul 9 dan 10 pagi itu. Seperti biasa, termenung sejenak, dan kembali memutuskan untuk melakukan sesuatu. Mencoba untuk melakukan ini dan itu, hingga akhirnya ku putuskan untuk merapikan tumpukan pakaian bersih yang begitu berantakan, yang belum sempat disetrika setelah selesai dicuci dan dijemur.
Kulipat sekenanya, kutumpuk, dan kususun sesuai kepemilikan masing-masing. Dan saat sebagian besar tumpukan pakaian tadi telah rapih, seorang teman datang. Kami berbincang sebentar di teras, kemudian aku bersiap untuk keluar dengannya, ke tempat dimana beberapa temanku yang lain sedang berada. Meninggalkan sisa tumpukan pakaian yang belum kurapihkan, untuk melanjutkan peran sebagai bohemian yang minus pengembaraan. Meninggalkan tugas dan tanggung jawab hanya untuk kesenangan semu. Layaknya aku yang menyia-nyiakanmu, begitu pikirmu?
Siang itu kuhabiskan dengan mengumpulkan dana secara kolektif bersama beberapa teman untuk membeli obat penenang sembari bercengkerama, menyesap kopi dan berbagi rokok. Menyaksikan lalu-lalang manusia dan kendaraan-bermotor pada jam sibuk. Hingga terik menjadi teduh dan sinar surya memudar. Kian kelam, menjadi malam.
Aku tak bisa tidur malam itu. Bahkan tak mengantuk sedikit pun. Sesekali juga aku merasa cemas tanpa sebab. Aneh, pikirku. Dan bukan hanya aku, teman-temanku itu juga menyadari keanehan tersebut pada tubuh mereka. Belakangan, setelah mencari-tahu di internet, kami simpulkan bahwa kami telah diberi obat yang berbeda (dengan tampilan yang sama) dari yang biasa kami konsumsi oleh si penjual. Keparat, umpatku.
Walau demikian, tetap ada sesuatu yang kurasa sama. Sensitivitas. Sebuah memori akan tergali semakin dalam dengan sendirinya tanpa dapat kuduga akan sedalam mana kelak. Kedalaman yang sulit dicapai tanpa terlebih dulu melarikan diri dari kenyataan.
Dan tahukah kau apa memori yang paling sering terputar di benakku tiap kali aku dalam pelarian itu? Memori yang menjengkelkan, namun begitu berharga. Karena hanya itulah yang kumiliki darimu sekarang. Memori tentangmu. Memori itu terus terputar, hingga ku putuskan untuk menghubungimu lagi, setelah beberapa bulan sejak terakhir kali aku menghubungimu—lebih tepatnya, mengganggumu.
Kuraih ponsel dan kujelaskan bahwa aku merindumu melalui pesan singkat. Kulirik jam pada layar ponselku, dini hari. Kuletakkan ponselku, lalu merebahkan diri untuk kembali merindumu sejenak. Dan kulalui hari itu tanpa tidur, hingga keesokan paginya.
Pagi ketiga dalam kisah ini, pagi dimana aku baru dapat menyelesaikan tulisan ini—setelah kuhabiskan malamku bersama perempuan-perempuan lain melalui teks dan telepon beberapa jam sebelumnya.