Kami berempat tengah duduk berdekatan pada kursi plastik di teras. Aku, sepupuku, dan dua pria paruh baya: yang lebih tua adalah salah seorang teman dekat tuan rumah, dan yang lebih muda adalah adik bungsu tuan rumah. Sementara sang tuan rumah—adik ipar ayahku—terbaring tenang di dalam peti mati di ruang tengah. Kedua pria tersebut diperkenalkan secara singkat dihadapanku oleh nyonya rumah, bibiku.
“Yang di Pekanbaru itu?” tanya yang lebih tua.
“Bukan..” jawab yang lebih muda.
“Dia pindah-pindah mulu, tapi sekarang di Sumatera juga proyeknya,” timpal bibiku.
“Oh, ya.. Beliau sering cerita,” sambut yang lebih tua.
Bibiku kembali masuk ke dalam rumah, dan kedua pria tersebut kembali duduk dalam diam.
“Sudah 10 tahun lebih kami berteman..” yang lebih tua mencoba membuka kembali obrolan. Keheningan yang memilukan. Pertemuan dua orang yang sama-sama ditinggal mati oleh orang yang cukup dekat bagi mereka.
Dalam benakku saat itu, aku memposisikan diriku sebagai si pria paruh baya yang lebih muda dan sang tuan rumah—mendiang pamanku—sebagai saudara kandungku. Sekalipun hubungan kami saat ini tidak bisa dibilang baik (tidak bisa juga untuk dikatakan buruk), setidaknya kami pernah dekat, dulu, saat bocah. Mungkin saja hubungan mendiang pamanku dan adik bungsunya ini seperti hubunganku dengan abangku, pikirku. Terlebih lagi mereka tinggal berjauhan dan sudah lama tidak berjumpa, lalu sekarang si adik harus menjumpai abangnya di dalam (dia tiba tidak lama setelah jenazah dimasukan ke) peti mati.
Hening. Tidak ada tanggapan berarti dari pria yang lebih muda untuk melanjutkan percakapan. Dan rasanya si pria yang lebih tua juga menyadarinya dengan tidak meneruskan untuk bicara.
“Tinggal di daerah sini juga?” pria yang lebihbmuda berbasa-basi, mencoba mencairkan suasana.
“Iya..” jawab pria yang lebih tua singkat.
Seperti yang pernah diungkapkan Pam beberapa waktu lalu dalam salah satu tulisannya, ada saatnya untuk menikmati suatu momen dengan hanya diam. Dan bagiku, momen ini memang layak untuk dilewati dengan keheningan. Mereka tidak perlu bercakap panjang-lebar, tidak harus mencairkan kecanggungan yang ada. Mereka layak untuk meresapi kesedihan masing-masing dengan hanya duduk diam berhadapan tanpa bicara, seperti yang memang terjadi.
Saatnya pun tiba. Keheningan yang total dan final. Hingga akhirnya si adik mendiang memutuskan untuk berdiri dan melangkah keluar begitu saja, keluar pagar hingga menghilang dari pandangan. Sahabat sang mendiang pun menyusulnya tak lama kemudian.
Dan tidak berapa lama, terdengar suara motor menyala, menyusul kembalinya si adik mendiang memasuki teras.