Malam itu acara sekolah perayaan Natal 2008. Seperti kebiasaanku tiap masuk sekolah kala itu, datang terlambat.
Berdua dengan temanku, kami memasuki aula sekolah melalui pintu belakang disertai tatapan sinis beberapa guru dan orangtua murid yang juga hadir, dan cengiran menyebalkan dari beberapa teman yang sudah hadir.
Kami duduk beberapa baris dari deretan kursi belakang sebelah kiri ruangan. Lantas kami beradaptasi dengan suasana damai yang kaku yang biasa terasa di acara-acara serupa.
Tidak sampai sejam kehadiranku di ruangan itu, acara memasuki sesi yang lebih menghibur dibanding khotbah evangelis yang tak lebih dari tim sukses sebuah parpol: kor. Perwakilan kor adik kelas.
Benar saja, menghibur..
Pandanganku langsung terpaku pada seorang gadis begitu para anggota kor menaiki panggung kecil, berbaris, dan mulai bernyanyi.
Gadis mungil. Tingginya sekitar 150-155 cm saat itu, mungkin. Yang jelas, aku yakin kami akan terlihat begitu proporsional bila berpelukan. Tubuhnya agak gemuk, dengan rambut sebahu berponi dan kulit sawo matang.
“Tuh cewek gue banget!” bisikku pada teman disebelahku sambil menunjuk gadis itu secara sembunyi-sembunyi.
“Ah, batak banget mukanya!” timpalnya seraya terkikik.
Benar juga, pikirku. Sekalipun ku tahu setelahnya bahwa tak ada darah batak dalam tubuhnya.
Hari-hari berikutnya, aku mencari tahu identitasnya. Kala itu pertama kalinya aku merasa begitu tertarik pada seorang perempuan.
Setelah berhasil mendapatkan nomor handphonenya, aku memberanikan diri memulai komunikasi dengannya. Dengan persiapan diri bila kami hanya bisa menjadi teman, atau mungkin sekedar kakak dan adik kelas.
Di awal perkenalan kami, aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengannya ketimbang mabuk-mabukan di rumah atau tidur di meja selama pelajaran sekolah berlangsung. Tidak seperti biasanya.
Setelahnya, jauh setelahnya, aku baru tersadar. Perjuanganku untuk mendapatkannya tidaklah sulit. Mudah. Pun dengan kehilangannya..