Skip to content

Hujan di bulan Desember: Air Mata.

Sepatutnya kuucapkan terima kasih yang sangat pada Tarjo. Karena melalui senartogok, dia telah meyakinkanku agar tidak lagi merasa malu untuk menangis. Membuatku berhenti beranggapan bahwa menangis hanyalah untuk orang-orang yang lemah sedangkan aku begitu tegar dalam menghadapi kebrutalan hidup.

Terima kasih telah membantuku kembali menjadi manusia.

*

Entah prosesi yang membosankan dari sebuah sakramen pernikahan di dalam gereja atau memang karena kebiasaanku mengkhayal—pikiranku telah menarikku ke masa lalu kemudian tiba-tiba melesat, melampaui diriku sekian waktu ke depan pada pagi itu.

Menyaksikan kakak perempuan tertuaku tengah diberkati pastor untuk menikah dengan lelaki pilihannya, didampingi perwakilan anggota keluarga dan beberapa saudara yang terpilih sebagai saksi dari kedua belah pihak mempelai.

Meratapi kenyataan bahwa tidak ada ibuku di antara kerumunan tersebut, karena beliau telah meninggal—tepat pada hari ulang-tahunku yang kesepuluh.

Mencoba untuk merasakan sepinya hati ayahku tanpa sosok istri di sampingnya selama lebih dari 10 tahun.

Kesepian yang kiranya makin menjadi karena salah satu anaknya akan memulai hidup baru. Seorang anak yang kerap menghidupkan suasana rumah dengan tawa ataupun kritik dan hujatan pada televisi kala ia asik seorang diri menikmati sinetron atau suguhan rumor seputar selebritis. Sesosok anak yang senang berbincang dengan sang ayah.

Beberapa kali aku berhasil menahan air mata yang ingin mengalir akibat ratapan dari keliaran pikiran-pikiran tersebut. Aku tak ingin hadirin disana menganggap aku memiliki hati yang begitu lembut dengan menjadi orang pertama atau mungkin satu-satunya yang menangis saat itu karena terenyuh akan romantisme seremoni pernikahan.

**

Seseorang menepak ringan punggungku. Aku menoleh. Dan kudapati bibiku—satu-satunya adik perempuan ibuku, belum menikah—duduk tepat di kursi belakangku. Satu-satunya kandidat yang dapat menjadi pengganti ibuku sebagai istri baru ayahku dalam tradisi ‘turun ranjang‘.

Kujabat tangannya, juga beberapa saudara lain dari pihak ibuku yang juga duduk di dekatnya. Ku sunggingkan senyum yang terasa kaku pada mereka, lantas memalingkan kembali tubuhku menghadap altar, memunggungi mereka.

Seketika air mata pun mulai menetes perlahan, membebaskan diri dari sudut-sudut mataku. Perlahan, hingga mengalir deras karena ketakberdayaanku membendungnya. Aku menunduk. Kutangkupkan wajahku pada kedua telapak tangan, menopangnya dengan menekuk lengan dan menumpukan siku pada lutut. Terisak, dan teringat untuk menangis dengan ikhlas.

Tangisku pun menjadi hingga badanku bergetar. Naik-turun, layaknya seorang yang sedang terbahak. Seorang kerabat, yang kupanggil nenek, menggenggam bahuku. Mencengkeramnya erat, hangat. Mengelus-elus lembut punggungku, mencoba untuk menenangkanku.

Saat tangisku terkendali, kuseka air mata sesegera mungkin. Kudongakkan wajahku, berdiri, dan bergegas menuju pintu keluar sambil berpura-pura menggaruk pelipis. Sebisa mungkin menutupi sisa kesedihan yang tertinggal di wajahku, berharap tak ada yang melihatnya lantas mengasihaniku.

***

Kususuri jalan menuju bagian belakang area gereja. Tak lama kemudian, aku menemukan tempat yang kuyakini sangat jarang dilalui orang, melewati kamar mandi, lebih ke pojok.

Aku berjongkok di satu sudutnya, menyandarkan tubuh pada tembok, dan kembali melanjutkan tangis disana.

*****

Nb: Terima-kasih untuk Raf, yang telah mengenalkanku pada karya-karya sederhana senartogok, yang begitu kaya akan rasa dan penuh cinta. Tabik.