Sejak siang langit sudah mendung. Ia tak hentinya menjatuhkan butiran-butiran kecil air dari awannya. Ya, butiran kecil, yang setahuku disebut gerimis, bukan hujan.
Aku memutuskan untuk berangkat sebelum gerimis kembali membasahi bumi di bagian tempatku berada. Bersama teman-teman yang memutuskan untuk ikut serta bersamaku, kami pun berangkat.
Perjalanan cukup menyenangkan. Kami sesekali tertawa dengan suara yang cukup besar di jalanan. Cukup untuk membuat pengguna jalan lainnya menoleh pada kami.
Beruntung, tidak perlu lama bagiku untuk mencari makam ibuku kali ini. Hanya tersesat sekali di kavling sebelah tempat makam ibuku berada.. Entah kapan terakhir kali aku kemari. Sekedar menabur potongan-potongan kecil bunga yang aku tak tahu apa. Mawar merah mungkin. Juga menyirami air mawar pada makamnya. Seperti yang kulakukan kali ini.
Entah bagaimana perasaannya mengenai kunjunganku kali ini. Bagaimana perasaannya terhadap kelakuan beberapa temanku terhadap makam-makam di dekatnya, yang cukup kurang-ajar bila orang lain melihatnya. Terhadap perkenalan mereka terhadapnya, yang juga bisa dianggap tidak sopan oleh manusia lainnya menurutku. Juga bagaimana perasaannya ketika ku bakar lintingan kecil daun ganja kering tepat di sebelah pusaranya. Entah bagaimana perasaannya..
Setelah memastikan taburan bunga tersebut sudah tertata serapih mungkin menyerupai bentuk ‘love’ diatas makamnya, kami pun sepakat untuk pulang. Bentuk ‘love’, hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya setiap kali kesana. Betapa bodohnya diriku, yang baru tersadarkan ketika simbol cinta tersebut hampir selesai dibentuk oleh salah seorang teman. Entah bodoh, atau tak acuh..
Sebelum kekurang-ajaran kami menjadi, seorang teman mengajak kami untuk pulang. Pergi meninggalkan pemakaman tepatnya.
Langit kembali murung. Gerimis datang tak lama sebelum digantikan hujan. Kami meneduh di sebuah pom bensin. Sekedar berbincang, juga bercanda dan kembali menarik perhatian orang-orang di sekitar dengan tawa kami.. Hujan cukup lama membasahi bagian bumi tempat kami berada saat itu.
Saat gerimis bertukar peran menggantikan hujan, kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Tiga orang dari kami berpisah. Mereka pulang terlebih dahulu karena urusan masing-masing, sementara kami melanjutkan perjalanan. Menghabiskan sore menuju tempat anti-depressant murah dijual.
Langit masih murung. Gerimis nampak tak lelahnya menjatuhi bumi. Tanah dan aspal.. Kami berhenti di sebuah warung kopi, ketika butiran gerimis terasa makin intens membasahi tubuh kami; menyantap bubur kacang-ijo dan menutupnya dengan asap rokok dan gelas berisi kopi hitam, sambil mengamati rintik gerimis..
Mulai reda, pikirku. Dan kami kembali melanjutkan perjalanan setelah ajakku pada mereka. Gerimis tiada henti, namun dengan intensitas yang cukup rendah sehingga tidak membuat kami terlalu basah karenanya..
Agak lama, karena tujuan kami memang cukup jauh.
Kusiapkan kumpulan uang untuk membayar selama menunggu si penjaga toko menyiapkan pesananku. Kuberikan kumpulan uang tersebut dan mengambil lembaran-lembaran kemasan butir penenang dari tangan si penjaga toko.. Ku masukkan ke dalam saku celanaku, dan bergegas pergi, sambil mengamati seorang bapak yang cukup mencurigakan, yang sepertinya lebih dahulu mengamatiku sejak aku tiba di toko tersebut. Entah polisi yang sedang menyamar, atau sekedar sipil yang dengan bangga menjadi kacung polisi. Entah.. Mungkin benar kata beberapa teman, bahwa tempat tersebut sudah diintai oleh keparat-keparat beratas-namakan polisi.
Kami lanjutkan perjalanan. Pulang. Ke tempat yang disebut rumah. Berhenti sebentar di sebuah taman kecil. Buang air-kecil di sela pepohonannya. Duduk sebentar sambil berbincang ringan, membakar rokok, dan menelan beberapa butir pereda kerja otak tersebut. Lalu kembali melanjutkan pulang.
Gerimis, hujan, gerimis kembali, hujan, saling berganti.. Beruntung, pom bensin berada tidak terlalu jauh dari tempat sepeda-motor yang kukendarai mogok karena kehabisan bensin. Mendorong sepeda-motor yang mogok, di bawah rintik gerimis, dengan anti-depresi dan ganja dalam tubuh.. Dan lagi, kembali melanjutkan pulang setelah membeli bensin, ditemani gerimis, juga hujan.
Semampirku sebentar ke rumah, dengan sepeda-motor, ku lewati seorang bapak yang sedang berjalan kaki dengan lengan yang diangkatnya untuk menutupi kepalanya dari rintik gerimis. Ku lewati, setelah ketakutanku mengalahkanku. Ketakutan akan tolakannya yang mungkin keluar bila ku menawarkan tumpangan padanya. Atau mungkin karena keegoisanku, yang terburu-buru untuk kemari. Minum kopi, lalu menuliskan ini..