“If you want loyalty, get a dog. If you want loyalty and attention, get a smart dog.” – Grant Fairley.
Kala itu kita masih belasan, dan aku patut mensyukurinya karena seperti yang pernah kau akui, kala itu kau begitu terbuka untuk menjalin hubungan dengan orang asing; dalam hal ini lawan jenis sebayamu; seperti remaja pada umumnya dalam masa pubertas mereka. Karena, seiring berjalannya waktu, ku sadari mereka yang sudah cukup dewasa cenderung enggan mengacuhkan pesan-singkat yang hanya berisikan sapaan dari nomor yang tidak dikenalnya pada ponsel mereka.
Sungguh aku tak menduga kau akan menyimpan nomor ponselku setelah aku menghubungimu untuk pertama-kalinya melalui sebuah pesan-singkat. Ya, itu lah awal perkenalan kita. Samar ku ingat kita sempat berbalas pesan-singkat dalam periode itu. Meski tak ku ingat pasti jumlah masing-masing pesan yang kita saling kirim dan terima, ku yakinkan kau dengan ingatan rapuh ini bahwa jumlahnya tak banyak. Engkau membalas pesan jauh lebih sedikit dibandingkan banyaknya lobian yang ku kirimkan padamu.
Sikapmu tersebut jelas membuatku cukup patah semangat. Kau tidak tertarik untuk juga mengenal diriku, begitu pikirku. Hingga hari berganti bulan yang juga tak ku ingat jumlah pastinya, saat itu pun tiba. Saat dimana aku kembali mencoba untuk dapat mengenalmu. Saat dimana olok-olokmu terhadap diriku tercipta. Singkat kata, kau menyatakan bahwa kau menyimpan nomor ponselku usai interaksi singkat kita sebelumnya.
Seperti yang sudah ku paparkan sebelumnya, aku tak menduganya dan hal tersebut membuatku sangat malu karena modus yang ku terapkan terbongkar begitu saja seketika itu juga olehmu. Namun di sisi lain, aku merasa cukup senang, karena itu adalah awal kedekatan kita. Dan perlu kau ketahui, bahwa aku masih cukup malu tiap kau sesekali membahas hal tersebut di sela canda kita di hari-hari setelahnya.
Segala keterbatasan yang ada nampaknya sukses menghambat keintiman hubungan kita. Bagaikan pembatas jalan di tengah jalan-raya dua arah, mereka mengiring kita untuk tetap melangkah di jalur masing-masing. Dan hasilnya, kita hanya dapat berpapasan sekejap lalu kembali melanjutkan perjalanan masing-masing. Kita tak dapat bersisian atau pun sekedar beriringan.
Aku memiliki perjalanan hidupku sendiri, perjalanan hidup yang tanpamu. Vice-versa. Sehingga tiap kali kita kembali berpapasan, masing-masing dari kita sudah memiliki pasangan; teman seperjalanan yang menemani masing-masing dari kita selama kita sejenak saling melupakan. Beberapa kali kita berpapasan demikian, pun sempat tegur sapa ketika mengisi bahan bakar di lokasi yang sama, untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Namun, beberapa waktu ini kita sedang berada di tempat peristirahatan yang sama. Entah karena begitu lelahnya kita akan perjalanan yang sedang kita lalui, entah karena takdir (jika kau lebih mempercayai alasan ini); kita lama berada di sini, tidak seperti saat mengisi bahan bakar. Saat-saat yang menenangkan. Saat-saat yang menyenangkan.
Sementara teman seperjalananmu beristirahat di kamar yang sudah kalian bayar di penginapan yang berada di area tersebut, kita bercumbu di kamarku yang bebas. Telah lama aku melanjutkan perjalananku hanya seorang diri, setelah teman seperjalananku tersayang memutuskan untuk berhenti menemaniku karena menurutnya ada semacam cinta yang dilihatnya pada mataku kala menatapmu saat kita berpapasan suatu waktu.
Perjalananku mengejar utopia yang tak kunjung usai kerap menguras banyak tenaga dan mengacaukan pikiranku. Pola tidur berantakan, hingga tak jarang lupa hari.
Pertengahan hari itu aku berjumpa seorang teman. Lantas aku bertanya; yang terkesan basa-basi; mengapa dia tidak bekerja. Kontan dia menjawab karena hari itu adalah Minggu.
Pikiranku langsung tertuju pada dirimu. Pada sapaan untukmu yang ku kirimkan via WhatsApp malam sebelumnya, Sabtu malam. Aku pun terhenyak mendapati kesadaran yang terlambat dalam benakku, bahwa hampir tiap Sabtu kau lalui malam-mu bersamanya, teman seperjalananmu, kekasihmu, yang secara de-facto begitu berhak memiliki dirimu beserta segala kasih di dalamnya.
Aku pun merasa takut, kau tahu? Aku takut dia mendapati kepanikan yang kiranya muncul pada wajahmu kala kau sadari akan kehadiran pesan tersebut, lantas membanjirimu dengan pertanyaan-pertanyaan investigatif mengenai hubungan di antara kita. Kemudian kalian bertengkar karenanya; tidak penting pertengkaran besar atau kecil; lalu amarahmu lahir terhadapku, yang beresiko kepergianmu lagi dari hidupku seperti yang pernah kau lakukan, seperti apa yang pernah Terese perbuat pada Myron dalam Long Lost karya Harlan Coben.
Tak kunjung ada kabar darimu, hingga Senin malam. Kau menghubungiku, memberikan peringatan tepatnya. Kau tegaskan padaku agar tidak menghubungimu via WhatsApp kalau kau tak lebih dulu menghubungiku melalui aplikasi tersebut. Aku memohon maaf dengan tulus, karena aku sadar bahwa aku memang bersalah. Ya, jawabmu. Lalu aku bertanya bagaimana reaksi kekasihmu itu.
Tidak ada jawaban darimu, hingga beberapa saat kemudian tampilan foto-kontak nomormu di layar ponselku berubah menjadi tampilan umumnya. Ketakutanku semakin menjadi. Ketakutan akan kehilangan jejakmu lagi. Kau telah memblokir nomorku..