Skip to content

Ketika alam bawah sadar menuntunmu pada Narnia..

Hampa.

Ini yang makin sering kurasakan belakangan ini, akibat (dapat dikatakan) rutinnya mengkonsumsi psikotropika murah. Benar, aku adalah seorang escapist. Atau apalah sebutan para straight-edge untuk mereka yang suka bermabuk-mabukan. Persetan.

Sebut saja aku seorang hippie. Pecundang. Melarikan diri dari kenyataan hidup untuk menjadi seorang dewasa. Bekerja. Menjadi menyebalkan karena terpaksa mengikis sisi kekanakkan untuk memenuhi standar masyarakat agar diakui sebagai seorang dewasa.

Enggan untuk bekerja secara tetap karena terus dirongrong ideologi anti-kapitalisme, yang hanya lah sebuah selimut tebal yang menyelimuti kemalasan dan kemanjaan diri ini. Menggunakan uang keluarga atau pun bekerja serabutan untuk mabuk di malam hari. Pulang, makan, dan tidur di pagi hari untuk melanjutkan pelarian yang tak tentu ujungnya di malam berikutnya.

Bila kau bertanya apakah aku malu akan semua itu, jelas, aku malu.

Aku malu pada diriku sendiri yang tiada henti memikirkan dan membayangkan peradaban bumi yang lebih baik (akibat ‘pergaulan’ ku dengan mereka yang  dapat dikatakan sebagai seorang aktivis), tanpa berbuat apa pun yang berarti. Maha benar dia yang berkata “Banyak orang yang memikirkan bagaimana cara mengubah dunia menjadi lebih baik, tanpa memikirkan bagaimana mengubah dirinya menjadi lebih baik”.

everyone desires a peaceful world

Aku malu pada Agamok, yang dengan segala keanehannya begitu tampak menawan bagiku.

Aku malu pada Raf yang usianya beberapa tahun lebih muda daripadaku, dengan wawasannya yang membuatku merasa bodoh.

Aku malu pada Ical, yang berbuat lebih banyak dibanding segala ocehanku.

Aku malu pada Bung Macho, yang tidak menyerah membanting-tulang dengan segala kekurangannya hanya demi gaji yang jelas tidak seberapa.

Aku malu pada Jack, atas tantangan tolol yang keluar dari mulut besarku di sekolah saat itu.

Aku malu pada Ata.

Aku malu pada street-punks.

Aku malu pada para atheist, yang karenaku tidak sedikit agamis yang beranggapan bahwa kehampaan hidupku ini karena aku tak bertuhan.

Aku malu pada tatoku.

Aku malu pada anak-jalanan yang hanya bisa kutatap nanar, lalu secepatnya mengalihkan pandangan ketika tatapannya mengarah pada mataku.

Aku malu.