Skip to content

Malam: Kecaman yang begitu mencekam..

Untuk kalian, penyuka malam.
Dan untuk setiap Putri Herlina, hormatku untukmu.

Selinting daun ganja kering nyaris habis terbakar kala obrolan itu tercipta dini hari kemarin, setelah sebelumnya psikoaktif dari obat murah menjalar dalam tubuh bersama berkantung-kantung minuman keras yang juga murah.

Berawal dari obrolan yang begitu acak, yang kerap absurd; obrolan orang-orang mabuk. Obrolan berlanjut pada suatu hal yang (menurutku pribadi) cukup penting. Suatu hal yang begitu berharga. Tentang malam. Tentang bulan dan bintang; walau kadang mereka tak akur. Tentang kebebasan..

Perbincangan itu dipicu oleh kudeta dari pihak militer Thailand yang terjadi di sana baru-baru ini. Berbagai peraturan nan otoriter pun diterapkan junta militer demi tahi babi berjuluk “kestabilan negara”, termasuk “jam-malam”.

Bagaimana mungkin engkau tak dapat menikmati sunyi malam sepinya jalanan yang minim kendaraan bermotor tanpa seijin tiran? Atau secara terpaksa kau menghabiskan tiap malam dengan memandangi televisi di dalam rumah?! Tidakkah kau merasa itu konyol? Memang, kekonyolan hidup ini sudah terbentuk semenjak dogma dan sebuah hukum diterapkan; baik oleh agama atau negara, atau pun keduanya. Dalam hal ini, seperti larangan keluar malam bagi wanita di beberapa daerah di negara ini dan jam-malam yang telah diterapkan di Bandung belum lama ini.

Dengan dalih “demi kebaikan” yang-diatur, para pengatur ini menciptakan ketololan-ketololan yang (sangat disayangkan) malah didukung dan dilestarikan oleh sebagian dari kita yang diatur, yang cukup tolol sehingga merasa baik-baik-saja hidup dalam ketololan tersebut.

Aku hanya dapat mengatakan, bahwa tidak menutup kemungkinan, adegan ketika Eve hampir diperkosa oleh beberapa polisi korup saat jam-malam dalam film “V for Vendetta” untuk menjadi kenyataan. Juga mungkin, kejadian yang dialami vokalis Pure Saturday ‘akibat’ jam-malam, akan menimpa dirimu bila kau melanggar peraturan tersebut.

Bukankah sudah jelas yang akan kita rasakan pada dasarnya jika kita hidup di dalamnya? Kita tidak akan dapat menikmati malam sepenuhnya. Mungkin kita akan menatap gelap yang sama, malam yang sama. Kita akan merasakan kelam yang sama. Malam yang membosankan. Memuakkan. Dengan ganja, obat-obatan, dan juga alkohol sekali pun, malam itu akan tetap memuakkan. Karena ada ketidak-bebasan di dalamnya..

“The only good fascist is the only dead fascist.” ~ Propagandhi.