“Mandi gih..” ucap Mas E.
“Iya, nanti aja.” balasku singkat. “Itu namanya apa ya Mas? Saya lupa.”
“Eskavator.” jawabnya.
Terus kupandangi alat berat tersebut mengeruki tanah yang ada di depannya, yang menurutku akan menjadi septictank gedung di hadapanku yang masih dalam tahap pembangunan.
Mesin itu terus mengeruk, hingga lapisan tanah mencapai warna gelapnya. Sementara beberapa meter di depannya, manusia-manusia miskin terus mencangkul tanah untuk proyek yang lebih kecil; ada yang dengan pacul, ada pula yang menggunakan kedua tangannya.
Ya, dengan tangan; karena kondisi yang sedemikian rupa, akan sulit bagi mereka untuk menyelesaikan pekerjaannya bila menggunakan alat seperti pacul; mengeruk segumpal besar tanah basah dari bidangnya agar dapat menciptakan ruang sedemikian rupa seperti yang dimaksudkan sang arsitek.
~
Mesin dan manusia. Ah, zeitgeist..
Mungkinkah? Dimana segala pekerjaan dikerjakan oleh mesin sehingga bermalas-malasan bukan lagi hak istimewa segelintir orang saja.
Lalu siapa yang mengotrol dan melakukan perawatan atau pun perbaikan terhadap mesin-mesin itu kelak? Mesin pula kah? Atau mungkin robot?
Bagaimana bila nantinya ada kerusakan pada si robot? Atau mungkin kelak robot tercipta dengan sempurna? Tidak akan mengalami gangguan/rusak, atau tidak akan pernah sakit dan mati pada manusia??
Persetan.
Tidak ada satupun altruis sejati di planet ini. Tidak. Termasuk diriku.
Yang aku inginkan kala itu adalah kesendirian.
Sendiri. Tanpa ideologi di lingkar otak-ku. Tanpa memikirkan cara supaya dapat menjadi kaya-raya agar mampu membantu para miskin.
Sendiri, menikmati pemandangan menyedihkan di bawah sana. Mengamati gerak-gerik eskavator dan para kuli.
Aku tersenyum kecil, menyaksikan si supir memainkan panel kendali eskavator sedemikian rupa, agar tanah yang masih tersisa dalam cakarnya jatuh seluruhnya. Mirip dengan ketika seseorang berusaha menjatuhkan nasi yang menempel pada sendok dengan menghentaknya.
~
Apakah sebaiknya ada orang-lain (mereka yang tidak pernah menyandang label ‘miskin’) yang turut menyaksikan eskavator dan kuli-kuli tersebut bersamaku?
Mungkin, tidak.
Biarkan mereka melanjutkan hidupnya, sementara aku menikmatinya bersama kesendirianku.
Aku pun teringat, kala sendiriku di bawah fly-over siang itu. Merebahkan diri pada tembok curam di hadapan salah satu pilar penyangganya.
Sendiri, menatapi mesin-mesin beroda empat dan lebih berlalu-lalang di jalan bebas hambatan di depanku.
~
Yang aku inginkan kala itu hanyalah kesendirian..
Sampai Mas E kembali merayuku. “Mandi gih. Kan ada pasar malam.. Saya mau beli sempak nih.”