Halte “Sekolahan”, Gunung Sahari – Jakarta Pusat
22 Januari 2013, sekitar pukul 4 sore.
Terpaksa kami harus berteduh karena gerimis secara mendadak berubah menjadi hujan yang begitu lebat. Sial, pikirku. Namun jelas, lebih sial mereka yang rumahnya masih tergenang air akibat banjir yang melanda Jakarta beberapa hari sebelumnya, yang salah satu titiknya kami lewati tadi.
Kami bergabung bersama seorang pria yang terlihat berumur 30-an. Penampilannya biasa. Menggunakan topi, kaos, celana selutut, sendal jepit. Seorang pria yang lebih tua tiba (sekitar awal 40 tahun mungkin) dengan kantung barang di kedua sisi sepeda motornya. Diangkatnya kantung barang itu dengan bantuan si pria muda, lalu diletakkan di atas gerobak yang ternyata berada tepat di belakangku. Lalu mereka mengobrol, yang aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Entah itu percakapan antar teman atau basa-basi perkenalan. Deru hujan dan pemandangan jalanan di depanku mengalahkan kemampuan telingaku untuk menguping. Awalnya aku menduga bahwa mereka saling kenal. Bahwa si bapak adalah pedagang yang baru pulang berbelanja barang dagangan, si empunya gerobak. Bahwa si pria muda adalah karyawannya.
Kemudian datang seorang ibu yang masih tergolong muda menggendong balita kurus, yang dengan tenangnya bermandikan hujan, menghampiri si pria muda. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak berapa lama, seorang ibu yang lebih tua datang juga menghampiri si pria dan ibu muda tadi. Seorang balita juga ada digendongannya, diikuti seorang gadis, sekitar 9 tahun. Merekapun bermandi hujan, dengan tenang.
Perhatianku terhadap arus kendaraan di jalanan depanku yang bergerak bergantian sesuai lampu lalu-lintas, berkurang. Aku mengamati kedua ibu tadi dan anak mereka. Ya, balita dan gadis kecil yang turut serta mengemis bersama sang ibu, di tengah hujan selebat ini sekalipun.
Si bapak membuka obrolan dengan si ibu yang lebih tua; dengan si ibu yang lebih muda; kembali dengan si pria muda.
Rintik hujan yang mulai melemah menguatkan kemampuan telingaku untuk mendengar percakapan mereka. Ku coba untuk mencerna tiap kata yang mampu ku dengar selagi mataku tertuju pada balita di dekatku, digendongan ibunya masing-masing.
Seratus ribu rupiah bisa diperoleh dalam sehari, begitu menurut pengakuan si ibu yang lebih tua. Menjelaskanku mengapa ia menolak saran dari si bapak agar ia sebaiknya menjadi pembantu rumah-tangga saja ketimbang mengemis dengan mengikutsertakan anaknya. Si ibu berdalih, ia takut anaknya dibawa pergi majikannya kelak.
“Tapi kalo lagi sepi, ya kaya gini. Sekarang aja baru dapet 20 ribu”, ungkapnya.
Lalu si bapak memberikan selembar uang seribu rupiah masing-masing kepada si ibu yang lebih tua dan si pria muda, tak lama setelah si ibu yang lebih muda melanjutkan mengemis pada pemilik kendaraan bermotor yang sedang berhenti disaat lampu merah menyala.
Selanjutnya ku ketahui, si bapak adalah seorang pedagang mainan yang berjualan di depan sebuah SD. Si pria muda adalah suami dari si ibu muda.
Aku termenung.
Bukan. Bukan hanya karena banyaknya pejabat korup di negara ini seperti yang diutarakan oleh si bapak, yang membuat ibu-ibu ini mengemis. Bukan, pikirku. Banyak sebabnya. Terlalu banyak..