Skip to content

Ode untuk alkohol

Seperti stimulan memabukkan lainnya, aku suka alkohol. Minuman beralkohol tepatnya, atau yang biasa disebut dengan miras (minuman keras). Mereka membantuku untuk merasa senang dan tenang. Sementara orang-orang ‘sehat’ berkata, “Apa kamu tidak bisa merasa bahagia tanpa barang-barang tersebut?”, aku tak peduli. Persetan.

Pada hakikatnya, alkohol memiliki manfaat medis. Tentu tidak sulit mencari referensi atas asumsiku barusan. Sudah banyak pula laporan yang menyatakan bahwa vodka berhasil menyelamatkan hewan peliharaan dari keracunan cairan pembersih lantai dan sejenisnya.

Selain itu, alkohol dapat menambah semangat dan gairah, kepercayaan diri dan keberanian. Itulah yang menyenangkan.

Memang kadang, kepercayaan diri dan keberanian yang diberikan alkohol adalah kekonyolan dan ketololan itu sendiri. Banyak yang menjadi berani (nekat lebih tepatnya) dan bertingkah layaknya Hercules di bawah pengaruh alkohol. Menjadi konyol dan bertingkah tolol hingga membuat orang-orang di sekitarnya muak. Tidak jarang aku merasa demikian saat ada di antara teman mabukku yang mulai kehilangan kontrol atas nada bicara dan sikapnya.

Tentu aku juga pernah terlampau mabuk, hingga tidak tahu bagaimana aku pulang ketika tersadar di dalam kamar. Yang dengan jelas ku ingat, aku tidak pernah memancing keributan saat mabuk. Aku tidak ingin menguatkan stigma alkohol yang kental melekat di benak mayoritas masyarakat.

Sudah jelas bahwa alkohol identik dengan keributan, pencurian, dan tindak kriminal lainnya. Namun, seberapa banyak kriminalitas yang dilakukan oleh pelaku yang berada di bawah pengaruh alkohol? Aku pribadi pernah beberapa kali dipalak dan sejauh ingatanku, tidak ada seorangpun dari mereka yang mulutnya beraroma miras atau menunjukkan tanda-tanda mabuk, sekalipun aku pernah dengan terpaksa menemani temanku yang mabuk memalak beberapa batang rokok dari seorang supir taksi yang sedang beristirahat di pelataran sebuah pom bensin.

Di samping itu semua, ketika engkau merasa muak akan hidup yang penuh kekonyolan dan ketololan, alkohol memberimu semangat dan gairah untuk melanjutkan hidup dan melawan ataupun sekedar mengabaikannya semampumu. Begitupun dengan kepercayaan diri dan keberanian yang diberikannya. Ketika kau merasa ragu atau terlalu takut untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang seharusnya kau lakukan dan katakan, alkohol membantumu untuk melaksanakannya.

Dengan atau tanpa alkohol, manusia bisa menjadi buas bila memang terpaksa. Karena selain tuhan, juga ada monster di dalam diri tiap manusia. Hanya saja, yang mana yang lebih kita pilih dan sejauh mana kita bisa mengendalikannya. Alkohol hanya perangsangnya.

“In vino veritas..”