Skip to content

Semiotika Romantika: Ode untuk Seorang Binor dan Elegi Polyamory

“Meski rumit, aku ingin mencintaimu.”
~ Senartogok

 

Sungguh, aku tak menyangka sudah selama itu. Empat tahun. Waktu begitu cepat berlalu, hingga kau juga yang menyadarkanku bahwa sudah 4 tahun kau menghilang dariku.

“I’m a mom with 2 kids now,” balasmu ketika aku menanyakan balik kabarmu. Aku tidak terlalu terkejut, mengingat bibir salah satu dari dua bocah pada foto profil WhatsApp yang kau gunakan untuk menghubungiku siang lalu, mengingatkanku pada senyummu.

“Yang pertama cowok, mau 4 tahun. Yang kedua cewek, mau 2 tahun,” jelasmu setelah sebelumnya memberitahuku nama lengkap kedua malaikat kecil itu.

People change,” kata orang. Begitu pun dirimu.

Badan dan pipimu melebar, payudaramu makin terlihat besar. Juga saat aku melepas kuncir selagi kita videocall dan menanyakan padamu, mana yang lebih kau suka, rambutku dikuncir atau digerai, dikuncir adalah jawabmu.

“Lebih rapih,” tukasmu sembari menutupi bibir, menahan tawa, kala kugoda dirimu atas jawabanmu itu.

“Ciyeee yang udah berubah. Dulu sukanya digerai,” ujarku.

Usai menyusui anak keduamu hingga lelap, kau beranjak dari kasur lalu keluar dari kamar.

“Beberes rumah dulu,” katamu sambil memperlihatkanku mainan anak yang berantakan di lantai, di ruangan lain dalam rumahmu. Rumah yang sama, yang pernah beberapa kali kusinggahi kala menjumpaimu. Rumah yang sama, yang pernah sekali menjadi tempatku menjemputmu sekitar tengah malam, untuk kemudian melakukan oral di jembatan kecil di atas sebuah jalan tol.

Rumah yang sama, yang kini kau huni hanya bersama suami dan kedua anakmu.

“Capek gak jadi emak-emak?” tanyaku selagi kau membereskan mainan.

“Ohh, capek!” jawabmu.

Seketika kau telah berada di ruangan lain. Kau letakkan ponsel di depanmu dan mengaturnya sedemikian rupa hingga visual yang kudapat adalah tubuhmu yang sedang duduk cenderung tegak pada sebuah kursi.

Aku tidak ingat betul apa saja yang kau ucapkan di awal-awal kemudian, karena efek ganja yang kubakar selagi kau menyusui anakmu sebelumnya.

Nada-nada tuts, gerak tangan, dan pandanganmu menyadarkanku, bahwa kau sedang di depan keyboard.

“Masih suka main gitar? Atau makin jago?” tanyaku.

“Enggak kok, sakit. Susah gitar mah..” sanggahmu.

“Kalo keroncongnya gimana? Masih aktif keroncongan?”

“Enggak juga.”

“Lah, kenapa?” tanyaku heran.

“Dia cemburu,” jawabmu bersut.

Sungguh, aku sangat menyayangkan dirimu tidak lagi aktif di grup musik keroncongmu itu.

Engkau lantas mulai memainkan intro yang kontan membuatku terpaku dan menajamkan telinga.

Imagine, dari John Lennon.

Perlahan, nada demi nada, engkau memainkannya. Kau menyanyikannya.

Sambil mengutuki dalam hati buruknya koneksi internetku, kunikmati alunan musikmu yang terdengar samar. Kunikmati ketulusanmu bernyanyi melalui raut wajahmu. Kunikmati kelembutan jari-jemarimu melalui telingaku. Tuts demi tuts, nada demi nada.

Seakan tak ingin menyianyiakan gairah, kau lantas memainkan Indigo Girl milik Watershed begitu Imagine mencapai nada akhirnya.

Maaf karena telah menyela permainanmu dengan bertanya, “Eh eh, lagu siapa sih? Kurang jelas nih suaranya.”

“Itu loh, yang lu kasih gua dulu, Indigo Girl.”

“Oh, yaudah lanjut. Hehe,” balasku. “Sinyal bangsat!” batinku.

Dan Somewhere Only We Know dari Keane menjadi lagu terakhir yang kau hadiahkan untukku siang itu, sejauh yang dapat kuingat.

People change. Entah sepenuhnya, entah sebagian daripadanya. Pun begitu dirimu. Kau berubah, engkau juga tetap sama. Senyum yang sama. Kau yang sama: yang akan kembali menghubungiku, menanyakan kabarku. Menanyakan kabar ayah dan kakakku yang pendiam, sekalipun tidak mengenal mereka secara personal. Tak peduli seberapa sering kau menghilang, seberapa lama kau menjauh.

Terlepas dari akankah kau tetap sama nantinya, kau tidak harus malu atau merasa bersalah karena berubah. Selama perubahan itu membuatmu bahagia, rayakanlah!

Apakah perubahan itu bermanfaat atau merugikan satu atau banyak orang? Itu soalan konsekuensi.

Bukankah perubahan adalah bagian dari hidup? Dan bukankah dalam setiap perubahan pasti ada konsekuensi? Maka, bukankah konsekuensi yang menyertai setiap perubahan adalah bagian dari hidup itu juga?

Tidakkah dalam menjalin suatu hubungan, seseorang perlu untuk siap tersakiti?

Kita pernah bersama. Namun, semua telah berubah. Hidupmu kini baru, bersama suami dan anak-anakmu.

Kau menginginkan pernikahan dan anak, sedang aku menentang dan tak mengharapkannya. Tanpa perubahan di antara hubungan kita, kau tidak akan mendapatkan keduanya.

Dan perubahan yang kau pilih membuat kita makin terpisah.

Itulah konsekuensi yang kutanggung

***

Tulisan ini rampung karena termotivasi oleh kedongkolan terhadap portal berita arus utama yang mengipasi masalah internal skandal Sabyan dengan keluarga yang bersangkutan, juga terhadap kedunguan warganet yang terkipasi olehnya. Juga, tulisan ini didedikasikan untuk mereka yang merasa tertekan atas hasrat untuk mencinta dan dicinta sebebasnya.