Seperti biasa, kekonyolan Jap membuat ku tertawa.
Malam itu, tiada hentinya dia menjadikan Kes bahan lelucon sebagai nina-bobo kami. Disamping itu memang merupakan salah satu hobinya belakangan ini, ku rasa kekalahannya dalam berjudi beberapa saat sebelumnya akibat tantangan Kes adalah faktor pendorong Jap begitu antusias membuat kami menertawakan Kes saat itu.
“Kita jujur-jujuran ayo.. Demi nama owloh ya! Berani gak lu?”, tantang Jap pada Kes.
“Selama disini udah pernah coli belum lu?!”, lanjutnya menyikapi diamnya Kes yang memang juga menunggu lanjutan banyolan Jap.
Bangsat! Pikirku sambil sebisa mungkin menahan tawa yang sudah cukup menyakitkan perutku, sementara Jap dan Kes terus saling tuduh dan terbahak.
───
“Tadi gue coli di MCK, enak banget! Jauh banget muncratnya udah lama kagak mah..”, cetus Jol beberapa hari setelahnya padaku.
Bangsat! Pikirku pula. Kenapa dia menceritakannya di saat tubuh dan otak ini sedang terbakar panas matahari?! Aku pun tertawa sekedarnya.
Hal itu memang sempat ku pikirkan, bahkan jauh sebelum banyolan Jap tersebut. Namun memang sejak awal aku tidak menaruh penuh pada niat untuk itu. Aku menyadari dan memaklumi situasi dan kondisi yang ada.
Lagipula, kemarin sepertinya, aku masih mampu bermimpi-basah. Aku rasa mitra phone-sex ku pun masih membutuhkan simbiosis-mutualisme di antara kami. Dan juga sepertinya MCK umum langganan kami jauh dari resiko mengalami penggusuran.
Tidak. Ini bukan lah masalah ‘mani yang baik adalah mani yang kental’ atau pun resiko ejakulasi-dini. Ini masalah pilihan. Dan juga kebutuhan, jelas.
Selayaknya senggama..