Rintik hujan masih belum berhenti sepenuhnya. Kami lanjutkan menghisap dalam-dalam rokok kami di dalam hangatnya warkop dengan kopi, teh, dan gorengan dihadapan kami. Entah sudah berapa menit aku asyik memandangi tetes air di luar, Dia mengagetkanku..
Entah darimana dirinya. Namun Dia kembali memasuki petak kecil warkop bersama seorang bocah, sekitar 7-10 tahun. Entahlah, aku tak begitu pandai mereka-reka usia. Yang jelas, wajahnya tak asing bagiku.
Bocah tersebut ternyata anak jalanan yang memang tinggal dan bekerja di sekitar sini. Dia melihatnya sedang meringkuk dan menggigil di pelataran sebuah ruko kecil yang telah tutup, beberapa meter dari warkop tempat kami singgah. Dia menjelaskan padaku selagi si bocah menyeruput susu hangat, lalu mengakhiri pembicaraan dengan tatapan pedih pada si bocah.
Hujan berhenti. Kamipun pulang, bersama si bocah. Mereka menyambut kepulangan kami dengan raut bingung, melebihi reaksiku sebelumnya saat melihatnya memasuki warkop bersama si bocah. Setelah memberi penjelasan, Dia mengisyaratkanku untuk mengajak si bocah mandi, sementara Dia membeli makanan untuk si bocah yang sepertinya segan untuk menyantap gorengan saat masih di warkop.
Ku ajak si bocah untuk mandi dengan air hangat yang sudah kusiapkan. Ku raih tangan mungilnya, namun si bocah menggigit tanganku. Aku mengaduh, sembari menangkap tubuhnya yang mencoba lari. Si bocah mencoba kabur dan menangis. Kami coba untuk menenangkannya, untuk bertanya padanya ada apa.
Saat Dia tiba, si bocah masih saja terisak dan tidak mengacuhkan kami. Di tengah penjelasan kami pada Dia tentang apa yang terjadi sepeninggalnya membeli makanan, isakan si bocah kian reda. Seakan menandakan bahwa dirinya tersinggung karena dibicarakan tepat di hadapannya seolah-olah dia tidak ada di sana.
“Mandi yuk! Nih aku udah beli makanan”, rayunya seraya menunjukkan kantung plastik yang dibawanya pada si bocah. Dia hanya diam, tidak mengaduh sepertiku saat si bocah juga menggigit tangannya ketika dia meraih tangan mungil si bocah untuk mengajak mandi. Kebingungan tampak di wajah si bocah karena Dia bahkan tidak menarik kembali tangannya sebagai reaksi atas gigitannya. Dia hanya diam.
Kemudian, Dia meledek si bocah, “Ini nih yang enak, bukan itu!” sambil mengangkat kantung plastik di tangannya lebih tinggi sambil menyeringai pada si bocah yang mulutnya masih menempel di tangannya. Heran, si bocah lalu melepaskan cengkeraman dan gigitannya. Mata kecilnya yang sembap mulai berair lagi.
Dia menunduk, lalu berjongkok tepat di depan si bocah.
“Kamu kenapa nangis?” tanyanya halus.
Si bocah diam.
“Mandi yuk?”
“Enggak!” disertai pukulan tepat di mata kiri adalah jawaban yang diterimanya dari si bocah.
“Kalo mau pukul lagi, di pipi aja yaa.. Jangan di mata. Sakit tau!” lanjutnya seusai mengusap air mata akibat pukulan tersebut.
Mungkin karena enggan menolak tawarannya dan jengkel melihat senyumannya saat berkata tadi, si bocah memukulnya lagi, tepat di pipinya.
Dia tersenyum, kembali. Membuat isakan si bocah makin menjadi.
“Kenapa kakak gak marah, malah senyum?!” si bocah menuntut jawab.
“Karena kamu gak sepenuhnya salah. Kamu bingung, apa yang sedang kamu alami, siapa kami, di mana kamu, dan apa yang akan kamu alami nantinya. Terus kamu jadi takut. Makanya kamu marah, terus mukul aku.”
Si bocah terdiam, kebingungan kembali terpancar jelas di wajahnya.
“Kamu pasti lapar, kan? Yuk mandi dulu, biar seger. Terus makan deh.”
Senyumannya yang tulus membuat si bocah kembali menangis. Namun tidak seperti tangis sebelumnya yang sarat akan keputus-asaan. Tangisnya kali ini begitu melegakan.
Dipeluknya si bocah, yang langsung balas memeluknya tanpa ragu. Satu hal sederhana yang tampaknya sangat dirindukan, atau mungkin sangat ingin dirasakannya..