Shella bilang, dia tidak takut mati. Proses kematiannya lah yang dia takuti: damai ketika tidur atau berakhir dengan tragis di jalan(?)
“Aku mimpiin kamu..” jelasmu dalam pesan itu.
“Ngewi?” candaku. “Gak ada hubungannya sama itu. Aku mimpi kamu putih. Katamu karena pakai obat pemutih muka palsu gitu,” jelasmu seraya tertawa ringan.
Bisa dibilang tidurku tidak pulas setelahnya. Beberapa kali aku terbangun di bawah meja itu, dan mendapati semacam ulat berwarna putih (mungkin cilung namanya) setelah merasakan ada sesuatu yang bergerak di rambut dan sekitar kepalaku.
“Mungkin makanan tokek yang tercecer,” batinku seraya menyentil beberapa ulat pertama ke arah kandang tokek yang berada tidak jauh dari tempatku tidur.
Tiga kali aku terbangun.
Dua kejadian sebelumnya tiba-tiba terpikirkan olehku sepanjang perjalanan beberapa jam setelahnya. Apakah karena cara mengemudi temanku yang membuatku memikirkannya, atau karena hal tersebut yang membuatku begitu takut bila cara temanku mengemudi tersebut akan mengantarkanku pada kematian?
Entahlah. Aku tak peduli.
Aku memikirkannya di waktu istirahatnya kami. Aku terus memikirkannya..
Yang aku pikirkan dan pedulikan sebenarnya adalah, apakah memang aku hanya takut pada rasa sakit yang mungkin menyertai menjelang kematianku nantinya? Atau sebenarnya aku memang takut pada kematian itu sendiri?
Entahlah..
“Teman khayalanmu membenci monolog.
Langit mana yang kau baca?
Kita membaca bintang yang sama.
Mantra apa yang kau punya?
Kematian menunggangimu.”
~ F. Agd. – abc’s of nothing.