Skip to content

Sabda Jumat

“Ini aja dia yang nyiptain yaa..?” ucapnya seraya menunjuk langit.

“Iya..” jawabku singkat.

“Tapi yang beruntung Islam ya, bisa mendapatkan ini semua..” lanjutnya.

Aku terdiam sejenak, menatapnya, yang balas menatapku. Lalu aku kembali menghisap rokokku. Pelan dan dalam..

***

Siang itu aku sedang beristirahat, duduk beralaskan rumput pada sepetak Ruang Terbuka Hijau di sebuah kawasan industri ibukota. Sementara kedua teman kerjaku menunaikan ibadah Jumat siang mereka, aku berteduh sembari menjaga kendaraan dan peralatan kerja kami. Tak lama, seorang pria aneh berjalan ke arahku.

Aku kenal secara personal dengan beberapa orang yang memiliki keterbelakangan-mental. Bahkan dua diantaranya; sebut saja Br dan Nm; bisa dikatakan adalah teman ngopi-ku sehari-hari. Namun aku bukanlah seorang ahli kejiwaan, jadi aku tidak tahu mana batasan hingga seseorang dapat dikategorikan sebagai debil, infantil, stress, atau bahkan idiot. Maka itu, aku sebut dia pria aneh.

Dia berjalan ke arahku, lalu berhenti di sisi kiri sebuah mobil yang terparkir tidak sampai 2 meter jaraknya dari tempatku berteduh. Dia membungkuk, lalu menatap tajam ke spion mobil. Dengan kedua telapak tangan bertumpu pada kedua lututnya, dia melihat lurus ke spion yang aku yakin berjarak kurang dari 20 sentimeter dari ujung hidungnya. Dia terus menatap tajam, terlalu lama untuk sekedar bercermin.

Kemudian dia membuka topi yang dikenakannya secara terbalik—menghadap belakang. Diusap-usapnya rambutnya yang pendek dan terpotong rapih, lalu dikenakannya kembali topinya secara terbalik.

Lalu dia menunduk. Dengan kedua tangan masih bertumpu pada lutut, dia menatap tanah. Mulutnya mengerucut dan meneteskan air. Liurnya menggantung sejenak sebelum mencapai tanah. Dia memandangi kumpulan liurnya sebelum akhirnya kembali menatap spion mobil, lantas berdiri tegak, memalingkan wajah dan melayangkan pandangan ke arah jalanan.

Sebelumnya, aku sudah melihatnya bercermin pada spion mobil tersebut. Tepatnya saat aku tengah bekerja beberapa jam sebelumnya. Itulah pertama kalinya aku menyadari eksistensinya. Aku mengira dia adalah tukang parkir setempat, atau seseorang yang berniat jahat terhadap tim kerjaku. Tuduhanku tersebut makin menguat setelah ku sadari pria tersebut mondar-mandir tak tentu arah di sekitar lokasiku bekerja. Namun nampaknya aku keliru, karena salah seorang teman kerjaku menuturkan bahwa dia telah menyadari perihal pria tersebut sejak 3 hari sebelumnya.

“Stress..” ucap temanku.

Seekor kambing tengah melahap rumput yang tumbuh tidak sampai 1 meter jaraknya dari kakiku. Menyadari hal itu, si pria aneh mendekat dan mengusir kambing tersebut agar menjauh dariku, sekalipun aku tidak merasa terganggu. Lalu dia mengitari pohon, ke belakangku, bergegas mengusir seekor kambing lain yang berada persis di samping sepeda-motor temanku sambil sesekali mengendusnya.

Si pria aneh kembali melangkah. Dia berhenti dan berdiri di atas pembatas jalan. Aku bergegas berdiri, mengambil bungkusan rokok lalu menghampirinya.

“Bang, rokok nih..” ucapku menawari. Lalu dia menoleh dan mendekat.

“Oh iya. Saya hisap ya?” balasnya.

“Silahkan,” timpalku, dengan penyesalan karena telah berburuk-sangka terhadapnya.

“Gak solat Jumat, bang?” lanjutku.

“Enggak nih, lagi ngangon kambing” jawabnya.

Kami pun melanjutkan perbincangan setelah pertanyaannya mengenai langit dan Islam tadi. Perbincangan yang tak tentu arah.

Orang ini mabuk jamur, batinku, sambil berusaha menahan senyum tiap kali dia meracau.

Yang cukup membuatku heran, dia begitu sering membuka topik obrolan yang politis. Mulai dari DPR, Amerika, hingga ISIS. Dan dia juga sering berbicara tentang Islam. Namun aku tak tahu (dan tidak mau tahu), apa maksud dari tiap racauannya, khususnya tentang Islam. Apakah dia seorang Muslim radikal, atau malah seorang Islamophobic? Seperti yang telah ku ungkapkan, aku tak tahu, dan tidak mau tahu. Maka itu aku selalu mengganti topik pembicaraan menjadi obrolan ringan di tiap sela racauannya. Sesekali kami terdiam. Kami hanya diam, menghisap rokok dan menatap teriknya jalanan beton. Sesekali dia memutar-mutar batang rokok dengan jari-jemari tangan kirinya dengan begitu lihai.

Aku tidak tahu dan tidak mau tahu tentang apa yang diyakininya. Aku hanya ingin menikmati waktu istirahatku.

Dia pun berdiri setelah dua kali ku tawari air minum dalam kemasan milikku. Hendak mengambil air minumnya sendiri, begitu katanya. Tak lama kemudian, kedua teman kerjaku pun kembali.