Entah sudah berapa lintingan ganja kering dan kantung miras oplosan yang habis. Yang pasti, kami sudah cukup mabuk. Kami mulai asyik masing-masing. Ada yang masih lanjut mengobrol sekalipun menurut pengamatanku, gak nyambung; sibuk dengan ponselnya, dan menonton tivi.
Aku sendiri memilih merebahkan tubuh di kasur, bergabung dengan mereka yang sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola di tivi yang berada tepat di depanku.
Bisa dibilang sepakbola adalah olahraga terfavorit di planet ini. Namun entah mengapa, aku tidak pernah dapat benar-benar menyukainya. Meski begitu, aku juga tidak benar-benar membencinya.
Belakangan, aku makin merasa muak terhadap sepakbola. Bukankah sesuatu yang tadinya menarik apabila diekspos terus-menerus, maka sesuatu tersebut malah cenderung menjadi banal?
Sepakbola bukanlah milik kaum pria saja, aku mengamininya. Tapi sungguh, banyaknya gadis yang memamerkan foto mereka dengan mengenakan jersey sepakbola akhir-akhir ini membuatku muak. Bila memang sebagian besar dari gadis-gadis tersebut penikmat sepakbola, kasihanilah aku. Tapi benarkah demikian? Ataukah mereka hanya tahu dan menyukai segelintir saja pemain top dunia yang juga berwajah rupawan? Atau lebih parahnya lagi, mereka hanya poser yang ingin diakui eksistensinya seiring tren yang sedang berlaku?
Oh, ini mengingatkanku pada seorang anak reggae yang menjawab pertanyaanku, tepat di depan wajahku, bahwa Jamaica berada di Amerika.
Perlu dicatat, kecurigaanku tadi tidak terpaku kepada para gadis saja. Pamer jersey dengan harga yang mencapai ratusan ribu rupiah nampaknya sudah menjadi keharusan untuk disebut sebagai penggemar sepakbola sekarang ini.
Kemuakanku juga disebabkan oleh ulah para suporter garis keras sepakbola di Indonesia yang belum juga menyudahi ketololannya. Kebanyakan dari mereka bertingkah layaknya ultras/hooligans, namun tanpa prinsip. Tidak sedikit pula penggemar sepakbola di sekitarku yang bahkan tidak tahu-menahu perihal modern-football.
Sementara mataku menatap kosong pada layar tivi, pikiranku mengawang makin jauh.
Bagaimana bila kau terlahir sebagai seorang perempuan yang tidak pernah menyukai boneka? Atau bila kau terlahir sebagai seorang lelaki yang suka bermain boneka? Mungkin kau dapat memahami perasaan kaum pelangi yang terdiskriminasi oleh dogma sosial bangsat seputar gender yang berlaku di masyarakat.
Disunting pada 17 Februari 2018.