Skip to content

Sekilas tentang televisi, moralitas, dan polisi.

“The only important thing on the television is the switch-off..”

– unknown

Sudah sekitar 5 tahun belakangan ini minatku menonton televisi jauh berkurang, karena aku (baru) menyadari bahwa sebagian besar—jika tidak dapat dikatakan seluruhnya—acara dalam kotak tersebut hanya menyajikan kekonyolan dan omong-kosong belaka.

Beberapa malam lalu aku sedang di kamar, menjahitkan beberapa lembar emblem pada celana, ketika ayahku masuk ke dalam rumah lalu menyalakan televisi. Saluran yang seketika terpilih tengah menayangkan sebuah dagelan politik terlaris di negeri ini, saat ini, menurutku pribadi. Salah satu program tivi lokal yang sering disaksikan beliau.

Acara tersebut sedang membahas kasus (prostitusi) yang melibatkan seorang selebritis: Nikita Mirzani (bahkan sampai tulisan ini dibuat, aku tak mengenali wajahnya). Aku dapat mengetahuinya tanpa perlu ikut menonton karena pintu kamar kubiarkan terbuka dan ayahku memang terbiasa menyetel tivi dengan volume yang cukup keras. Secara tak langsung, aku turut menyimak acara tersebut.

Aku sempat kagum dengan argumen seorang peserta acara soal kesetaraan gender serta perihal kedaulatan perempuan atas tubuh mereka. Aku juga sempat geli terhadap mereka yang bersikeras menyalahkan lantas mendiskreditkan korban (perempuan pada umumnya) dalam setiap kasus yang berhubungan dengan seksualitas. Justifikasi ala megalomania yang mengatasnamakan moralitas semu warisan leluhur: hanya lelaki yang berhak mempunyai lebih dari satu rekan senggama.

Seketika terbayang Nikita menyanyi “MORALITASMU BUKAN UNTUKKU!” dengan lantang sembari ‘moshing’. Akan terlihat keren sepertinya.

Sejujurnya, ide untuk mengetik rangkaian kata ini tersirat ketika terdakwa, Nikita Mirzani, memberikan respon atas pernyataan seorang perwakilan dari pihak Bareskrim POLRI terkait penanganan kasusnya. Dia, Nikita, menuturkan apa yang (menurutnya) dialami selama pemeriksaan: pelecehan (secara verbal dan fisik) oleh beberapa (oknum) polisi.

MV mendefinisikan manusia-yang-tidak-membenci-polisi dalam 2 kategori, yakni mereka yang adalah (bagian dari: keluarga/kerabat) polisi itu sendiri, dan mereka yang tidak (belum) pernah berurusan dengan polisi. Dan rasanya, memang sudah rahasia umum, bahwa tidak sedikit orang yang mengutuki polisi yang mereka jumpai di jalan.

Lantas, apa yang bisa diharapkan dari tivi, moralitas, dan polisi?

Kenyamanan? Ketenangan? Keamanan?

Matikan dulu tivi. Perhatikan sekitar dan sadari lah bahwa hidup bukan hanya soal asmara atau bagaimana menjadi tenar dan kaya-raya saja. Persetankan moralitas sejenak dan pandang lah dunia melalui mata mereka yang diinjaknya: LGBT, non-agamis, perempuan perokok, lelaki berambut panjang, pramuria, orang-orang bertato, anak jalanan, dsb.

Dan jangan sungkan untuk berteman dengan seorang kriminal. Karena bila ingin mengetahui kebusukan seseorang, bergaul dengan musuh dari orang tersebut adalah suatu kebutuhan.