Untuk para orangtua yang membanggakan
almamater dan status sosial anaknya.
Mungkin juga untuk kamu, KTM,
dan kartu identitas perusahaanmu.
Pernahkah sekali saja terlintas dalam pikiranmu, “Untuk apa (ada) sekolah”? Untuk apa orangtua bekerja keras mencari uang untuk membiayai sekolah anaknya?
“Sekolah lah setinggi mungkin, agar semakin banyak ilmu yang kau dapat..” hanyalah sekedar klise bagiku. Kenyataannya yang berlaku adalah, “Sekolah lah setinggi mungkin, agar semakin tinggi jabatanmu saat bekerja, maka semakin tinggi gaji yang kau terima.” Semakin tinggi tingkat pendidikan yang diambil seseorang untuk pekerjaannya kelak, semakin tinggi pula biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan pendidikan tersebut. Semacam pembalasan, atau investasi?
Tempat yang memaksakan persamaan, yang justru melahirkan perbedaan yang menyedihkan. Si anak kaya dengan seragamnya yang bersih dan rapi, yang memenuhi standar estetika masyarakat. Sedangkan si anak miskin dengan seragam kusamnya. Belum lagi dengan aksesorisnya, seperti dasi, topi, tas, sepatu, dan alat tulis. Si anak kaya dengan semua yang apik dan bergengsi; si anak miskin dengan segala yang kusam. Menyeragamkan perbedaan. Satu ketololan yang mengatasnamakan pendidikan.
SD, SMP, SMA, lalu kuliah.
Si anak mendambakan sangkar emas: sekolah/kampus yang diisi oleh manusia-manusia pilihan, yang hanya menerima manusia dengan otak cerdas sebagai muridnya; dimana sepeninggalnya dari sana niscaya akan memperoleh pekerjaan dengan gaji besar tanpa perlu bermandikan peluh.
Seperti yang sudah ku ingatkan tadi, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar biaya yang dibutuhkan. Begitu pula bila semakin bagus tempat dimana pendidikan itu diperoleh. Seperti halnya si anak yang mendambakan, orangtua pun akan mengusahakannya sekalipun harus ekstra banting tulang atau pinjam sana-sini.
Itu mengapa aku kurang sepakat dengan mereka yang beranggapan bahwa sekolah hanyalah produsen budak pemilik-modal. Tidak. Tidak sebegitu saja. Sekolah adalah produsen budak pemilik-modal, kaki-tangannya, dan pemilik-modal itu sendiri.