Dua botol bir menjadi penutup diskusi penuh racauan malam ini. Setelah meletakkan botol kosong di sebidang tanah yang menjadi tempat tumpukan sampah, aku bergegas ke rumah. Kubuka pintu dan kudapati ayahku masih terjaga, tengah menonton televisi.
Rasa lapar setelah mengganja membuatku bergegas ke dapur, mengambil piring dan sendok, hendak makan. Setelah menyiapkan makanan, ayahku memanggil.
“Anter ini ke kantor camat besok,” pintanya lemah. Setahuku beliau memang sedang flu sejak kemarin. Lantas aku menimpalinya, bertukar-tanya, berdialog dengannya.
Dialog yang jarang terjadi antara kami: lembut, tulus, tanpa urat leher yang menegang: penuh kasih.
“Siapin aja berkasnya,” tutupku, lalu lanjut menuju kamarku dengan sepiring makanan dan segelas air putih.
“Beliin dulu obat masuk angin,” pintanya lagi, tidak lama sekelarnya aku makan.
Sebelumnya, beliau telah mematikan tivi dan beranjak ke kamar tidurnya selagi aku makan. Terkesan beliau tadi memang sedang menungguku pulang untuk menyampaikan permintaan tolongnya perihal berkas tersebut.
Dengan pikiran yang penuh, aku bergegas mencari obat yang dimaksudkannya di warung terdekat.
Pikiranku saat itu penuh akan dirinya, beliau yang tengah sakit dan sedang mengurus pensiun. Tanpa seorang istri yang akan merawatnya sedemikian rupa, dengan anak-anak yang tidak terlalu dekat dengannya.
Setibanya kembali di rumah, kupanaskan sedikit air. Kuseduhkan segelas teh manis hangat untuknya.
“Ini obat masuk anginnya, sama teh manis anget. Kalo mau, dicampur aja,” seruku dari luar pintu kamarnya, lantas meletakkan keduanya di meja terdekat.
Terpikir olehku kala menunggu tanggapannya: mungkinkah beliau mengharapkan aku mengantarkannya ke dalam, lalu menemaninya selama dia menghabiskan teh atau sekedar meminum obat? Mungkin..
“Mungkin di dalam sedang ada kekasihnya itu. Jika tidak, dia pasti akan memintamu mengantarnya ke dalam,” begitu bisik pikiran liarku.
“Taruh aja disitu,” jawabnya dari dalam kamar.
Kupandangi pintu kamarnya, membayangkan diriku berada di posisinya, sesaat sebelum aku kembali ke kamar.
Kubakar lagi puntungan rokok di asbak. Menghela nafas panjang, mencoba untuk mendapatkan sedikit ketenangan. Termenung, lalu tersenyum, dengan pedih di hati.
Tanpa mabuk sebelumnya, bukan percakapan seperti tadi yang mungkin akan terjadi antara kami. Melainkan dialog yang datar tanpa emosi, mungkin bahkan perseteruan penuh kecaman dan umpatan. Mungkin..
Dan mungkin, memang aku yang terlalu naif untuk sedikit lebih lunak dan menunjukkan rasa sayangku pada beliau.