Siang tadi aku terbangun, bukan hanya karena lapar yang memang sering membangunkanku. Dengan sisa-sisa alkohol di kepala, aku mencoba beradaptasi dengan keramaian yang tak biasanya hadir di rumahku.
Beberapa orang yang tidak ku kenal, beberapa adik sepupuku, ayahku, dan tiga orang pamanku. Pakaian mereka rapi. Acara formal, pikirku.
Namun, aku sempat heran. Tidak ada satu pun bibiku yang hadir di sana. Tidak perlu waktu lama bagiku untuk memahami apa yang tengah berlangsung. Berkat pengalamanku dalam keluarga belakangan, aku berspekulasi bahwa mereka tengah membahas acara lamaran kakak perempuan tertuaku.
Ya, aku hanya menduga. Karena memang aku tidak tahu sama sekali mengenai acara tersebut. Karena memang tidak ada yang memberitahuku. Tidak. Dan aku tidak peduli sebenarnya.
Disamping pembicaraan ayah dan kakakku belakangan seputar rencana pernikahannya, faktor lain yang membuatku berasumsi demikian adalah patriarki. Keluargaku berasal dari salah satu suku yang cukup kental patriarkalnya. Bagiku itu sudah cukup menjelaskan perihal ketidakhadiran satupun bibiku di acara keluarga seperti itu.
Saat tulisan ini dibuat pun aku masih belum tahu, apakah absennya figur bibi dalam acara tersebut adalah bagian dari adat atau tidak. Yang terpenting, dugaanku tepat.