Skip to content

Suara: mereka yang tidak akan pernah dapat benar-benar diredam.

Ku lemparkan sebuah potongan keramik yang lumayan besar ke arah mereka, yang kemudian suara pecahnya meredam gelak-tawa di taman kecil itu. Kesunyian yang menyusul segera membuatku menyandarkan diri di antara pilar gapura di dekatku, kembali merokok dan duduk menunggu. Dan dalam beberapa menit yang tak lama, tiga temanku mendapatiku disana. Dua diantaranya begitu terkejut, lalu melontarkan makian yang berbarengan dengan tawaku dan tawa teman-temanku yang lainnya di sana.

“Baru bangun?”, tanya seorang teman. “Iya”, jawabku singkat. Lalu ku lihat handphone-ku. Setengah satu, dini hari. Minuman, rokok, gorengan, dan obrolan yang kerap tak nyambung yang lalu diikuti gelak-tawa yang lain menemani kami melanjuti hari menjelang pagi.

Aku tidak menelan obat apa pun saat itu; tidak juga sebelum aku kesana. Namun kegundahan tak beralasan yang kurasa membuatku menduga mungkin aku telah kena dikerjai mereka dengan minuman-minuman yang ada. Sial, pikirku. Atau mungkin, memang diriku yang sedang labil saat itu..

Subuh pun terlewat. Begitu pula pagi yang terasa begitu singkat.

Menjelang sore, aku dan beberapa teman yang tersisa menghabiskan siang dengan memanen dua pohon rambutan. Ajakan dari seorang teman yang lain, yang tidak menghabiskan malam sebelumnya bersama kami.
Cukup menyenangkan. Terlebih saat seorang teman disungut seekor tawon, yang aduannya kami balas dengan tawa.
Kotor, sedikit lecet, dan banyak bentol hadiah dari ulat bulu-ulat bulu penghuni pohon.
Lelah dan lapar.
Seusai makan di depan pelataran sebuah salon kecantikan yang saat itu sedang tidak beroperasi, tiba waktunya kami untuk bersantai. Membuang bungkusan nasi warteg dan segala sampah lainnya dan membersihkan karpet alas kami duduk. Membakar rokok lalu duduk bersantai memandangi taman di depan sana, tempat kami mabuk semalam.

Namun, sepertinya pikiranku enggan membiarkanku santai begitu saja. Rasa-rasanya ia ingin keluar dari sana. Ingin menjadi diriku yang lain, untuk kemudian menyingkirkanku dari kehidupan ini. Ia melompat tiada henti, dari hal ini menjadi yang itu secara tiba-tiba.
Tidak. Ini bukan sebuah pemikiran yang bercabang, yang cabangnya kemudian bercabang lagi, lalu cabangnya tersebut bercabang lagi, bercabang lagi, lagi dan lagi yang akhirnya lenyap di satu titik tanpa peringatan sama sekali. Tidak. Ia tidak seaman itu.
Ia berbahaya. Ia lebih kepada hakim yang siap mengetuk palunya tepat dijidatmu ketika jaksa penuntut yang tiada henti mencari-cari kesalahanmu menemukan satu diantaranya.
Ia berbahaya. Ia begitu mengenalmu. Ya, ia adalah kamu yang lain. Yang tercipta dengan sendirinya olehmu, oleh pikiranmu sendiri. Ia tercipta atas ketidak-berdayaan diri, kekecewaan pada diri sendiri. Atas satu, atau pun banyak hal.
Ia adalah anti-tesis atas dirimu. Seperti ketika kirimu berkata atas, sementara ia yang merupakan kananmu mengatakan bawah. Engkau yang atas mencoba untuk merangsek maju, namun ia yang bawah bertahan untuk tetap mundur.
Ia berbahaya. Ia menakutkan. Seperti kecemasanmu apabila mimpi terburukmu menjadi kenyataan bahkan sebelum khayalan terindahmu memasuki bab akhir.

Berkali-kali kupejamkan mata, lalu menggelengkan kepala. Berharap ia buyar, pecah, dan tak kembali.
“Itu hanya pikiranku. Aku sendiri yg menciptakannya..”, batinku.
Lalu pikiran lain pun datang. Pikiran yang lebih jernih.
Aku harus bisa mengendalikan suara-suara itu. Aku lah yang menciptakannya. Bila aku terlalu lemah untuk itu, maka tanggung-jawabku lah untuk melanjuti hidup dengan mengalami kelainan jiwa. Seperti itulah kira-kira kata si pendatang baru tersebut.

Yang lain yang kutakutkan, adalah bila ada diantara teman-teman terdekatku saat ini yang nantinya tidak dapat membungkam suara-suara dari pil penenang mereka tersebut.

Sejenak ku pikir rasa lelah sehabis memanen rambutan lah yang membuat pikiranku semakin absurd. Atau mungkin, itu kali pertama diriku, atau sesuatu di dalamnya, telah mencapai titik jenuh yang paling jauh.

Kurebahkan tubuhku di karpet itu. Kupejamkan mata, dan berharap tertidur secepatnya di samping seorang teman yang sudah mendahului..