“If you want loyalty, get a dog. If you want loyalty and attention, get a smart dog.” – Grant Fairley.
Kala itu kita masih belasan, dan aku patut mensyukurinya karena seperti yang pernah kau akui, kala itu kau begitu terbuka untuk menjalin hubungan dengan orang asing; dalam hal ini lawan jenis sebayamu; seperti remaja pada umumnya dalam masa pubertas mereka. Karena, seiring berjalannya waktu, ku sadari mereka yang sudah cukup dewasa cenderung enggan mengacuhkan pesan-singkat yang hanya berisikan sapaan dari nomor yang tidak dikenalnya pada ponsel mereka.
Sungguh aku tak menduga kau akan menyimpan nomor ponselku setelah aku menghubungimu untuk pertama-kalinya melalui sebuah pesan-singkat. Ya, itu lah awal perkenalan kita. Samar ku ingat kita sempat berbalas pesan-singkat dalam periode itu. Meski tak ku ingat pasti jumlah masing-masing pesan yang kita saling kirim dan terima, ku yakinkan kau dengan ingatan rapuh ini bahwa jumlahnya tak banyak. Engkau membalas pesan jauh lebih sedikit dibandingkan banyaknya lobian yang ku kirimkan padamu.
(Continued)
Obrolan dan racauan silih berganti terlontar dari mulut kami, diiringi semilir angin sore tadi. Di sebuah balai rw, di tepi tanah lapang yang masih sering disebut rawa, meski sudah tersentuh pembangunan di beberapa bagiannya.
“…karena manusia-manusia yang ada disini sudah tidak manusiawi lagi..” begitu kira-kira racauan seorang teman, yang ditujukan pada kami (termasuk dirinya sendiri) yang sedang dalam pengaruh THC; berusaha menjabarkan maksud dari lagu yang sedang diputar oleh pemutar musik di ponselnya, mungkin begitu maksudnya..
Keliru, batinku, menampik racauan tersebut. Justru momen seperti itu sungguh manusiawi bagiku. Tertawa.. Riang.. Bahagia.
Monday, December 15, 2014
Untuk kalian, penyuka malam.
Dan untuk setiap Putri Herlina, hormatku untukmu.
Selinting daun ganja kering nyaris habis terbakar kala obrolan itu tercipta dini hari kemarin, setelah sebelumnya psikoaktif dari obat murah menjalar dalam tubuh bersama berkantung-kantung minuman keras yang juga murah.
Berawal dari obrolan yang begitu acak, yang kerap absurd; obrolan orang-orang mabuk. Obrolan berlanjut pada suatu hal yang (menurutku pribadi) cukup penting. Suatu hal yang begitu berharga. Tentang malam. Tentang bulan dan bintang; walau kadang mereka tak akur. Tentang kebebasan..
Perbincangan itu dipicu oleh kudeta dari pihak militer Thailand yang terjadi di sana baru-baru ini. Berbagai peraturan nan otoriter pun diterapkan junta militer demi tahi babi berjuluk “kestabilan negara”, termasuk “jam-malam”.
(Continued)
“You’re my little indigo girl, indigo eyes, indigo mind.. You’re my little indigo girl, indigo smile, indigo frown..”, ucapnya mengikuti lagu yang terputar sembari menepuk-nepuk lemah penuh sayang punggung anak pungutnya yang tertidur lelap dalam dekapannya.
“Nobody dies as a virgin. Life fucks us all.” ~ Kurt Cobain.
Kerja.. Betapa memuakkannya hal itu bagiku.
Yang kumaksud kerja disini jelas, melakukan suatu kegiatan untuk mendapatkan uang, yang kelak akan digunakan untuk melanjutkan hidup: membeli makan, minum, pulsa seluler; membayar tagihan listrik, cicilan motor, mobil, atau pun rumah; menimbun harta demi meningkatkan status sosial dalam masyarakat atau pun sekedar bertahan menjauhi predikat ‘miskin’ atau mungkin bertahan untuk tetap hidup menghindari kematian.
Bangun di pagi hari, sementara kepalamu masih terasa sedikit pusing akibat alkohol di rumah temanmu semalam yang terpaksa kau tinggalkan bersama teman-temanmu yang lain karena kau harus bangun pagi-pagi untuk bekerja. Tidakkah itu memuakkan?
(Continued)
Monday, February 24, 2014
Ku lemparkan sebuah potongan keramik yang lumayan besar ke arah mereka, yang kemudian suara pecahnya meredam gelak-tawa di taman kecil itu. Kesunyian yang menyusul segera membuatku menyandarkan diri di antara pilar gapura di dekatku, kembali merokok dan duduk menunggu. Dan dalam beberapa menit yang tak lama, tiga temanku mendapatiku disana. Dua diantaranya begitu terkejut, lalu melontarkan makian yang berbarengan dengan tawaku dan tawa teman-temanku yang lainnya di sana.
“Baru bangun?”, tanya seorang teman. “Iya”, jawabku singkat. Lalu ku lihat handphone-ku. Setengah satu, dini hari. Minuman, rokok, gorengan, dan obrolan yang kerap tak nyambung yang lalu diikuti gelak-tawa yang lain menemani kami melanjuti hari menjelang pagi.
Aku tidak menelan obat apa pun saat itu; tidak juga sebelum aku kesana. Namun kegundahan tak beralasan yang kurasa membuatku menduga mungkin aku telah kena dikerjai mereka dengan minuman-minuman yang ada. Sial, pikirku. Atau mungkin, memang diriku yang sedang labil saat itu..
(Continued)
Sejak siang langit sudah mendung. Ia tak hentinya menjatuhkan butiran-butiran kecil air dari awannya. Ya, butiran kecil, yang setahuku disebut gerimis, bukan hujan.
Aku memutuskan untuk berangkat sebelum gerimis kembali membasahi bumi di bagian tempatku berada. Bersama teman-teman yang memutuskan untuk ikut serta bersamaku, kami pun berangkat.
Perjalanan cukup menyenangkan. Kami sesekali tertawa dengan suara yang cukup besar di jalanan. Cukup untuk membuat pengguna jalan lainnya menoleh pada kami.
Beruntung, tidak perlu lama bagiku untuk mencari makam ibuku kali ini. Hanya tersesat sekali di kavling sebelah tempat makam ibuku berada.. Entah kapan terakhir kali aku kemari. Sekedar menabur potongan-potongan kecil bunga yang aku tak tahu apa. Mawar merah mungkin. Juga menyirami air mawar pada makamnya. Seperti yang kulakukan kali ini.
(Continued)
Shella bilang, dia tidak takut mati. Proses kematiannya lah yang dia takuti: damai ketika tidur atau berakhir dengan tragis di jalan(?)
“Aku mimpiin kamu..” jelasmu dalam pesan itu.
“Ngewi?” candaku. “Gak ada hubungannya sama itu. Aku mimpi kamu putih. Katamu karena pakai obat pemutih muka palsu gitu,” jelasmu seraya tertawa ringan. (Continued)
Wednesday, October 16, 2013
“Ada apa?” Tanya si pria pada gadis di pojok satunya, seraya menahan tawa dan menyerahkan segelas minuman pada wanita disebelahnya yang terus mengikik.
“Aku heran”, jawabnya lirih sambil tetap menatap dingin sepasang gay yang sedang bercumbu di seberang ruangan, yang sedang ditertawakan oleh kedua temannya tersebut. “Apa yang salah dengan mereka? Mereka hanya bercinta. Sama seperti kalian. Sama seperti kita”, ucapnya pada pria tersebut.
“Mereka hanya sedikit berbeda”, lanjutnya.
Wednesday, September 18, 2013
Hampa.
Ini yang makin sering kurasakan belakangan ini, akibat (dapat dikatakan) rutinnya mengkonsumsi psikotropika murah. Benar, aku adalah seorang escapist. Atau apalah sebutan para straight-edge untuk mereka yang suka bermabuk-mabukan. Persetan.
Sebut saja aku seorang hippie. Pecundang. Melarikan diri dari kenyataan hidup untuk menjadi seorang dewasa. Bekerja. Menjadi menyebalkan karena terpaksa mengikis sisi kekanakkan untuk memenuhi standar masyarakat agar diakui sebagai seorang dewasa.
Enggan untuk bekerja secara tetap karena terus dirongrong ideologi anti-kapitalisme, yang hanya lah sebuah selimut tebal yang menyelimuti kemalasan dan kemanjaan diri ini. Menggunakan uang keluarga atau pun bekerja serabutan untuk mabuk di malam hari. Pulang, makan, dan tidur di pagi hari untuk melanjutkan pelarian yang tak tentu ujungnya di malam berikutnya.
(Continued)