Tuesday, September 17, 2013
“Come and take a look out through my eyes
And you decide, why people act this way?
People thieving, fighting, telling lies
They critize and hate each other..”
~ Steven & Coconut Treez.
Generasi muda negara ini, saat ini, sedang menggilai reggae. Dapat dikatakan mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah lah yang mendominasi. Ya, itu lah yang dapat kusimpulkan berkat pergaulanku dengan mereka yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA saat ini dan media sosial. Dan juga TVRI yang menyiarkan secara langsung gebyar musik reggae dalam rangka ulang-tahunnya yang ku tonton di sebuah warung kopi malam itu.
(Continued)
Selamat hari raya idul fitri, untuk kalian yang merayakannya.
Selamat bersuka-cita, bagi kalian yang merasakannya.
Selamat berlibur, bagi kalian yang tidak lagi perlu berpeluh untuk makan walau hanya untuk sesaat.
Selamat, untuk kalian yang terpaksa menyembunyikan identitas, yang melewati 1 bulan waktu dengan dihantui ketakutan akan disapu.
Selamat, untuk kalian yang semakin terbebani oleh menggilanya harga bahan pangan di bulan penuh kebaikan.
Selamat. Bulan itu telah berlalu, walau hanya untuk sesaat.
Selamat, untuk para pemilik modal atas meningkatnya profit penjualan.
Selamat tinggal, bulan konsumerisme.
Sampai jumpa, para pemburu pahala.
Sampai jumpa, para munafik.
Sampai jumpa, pemuka agama, dermawan, dan relijius dadakan.
Sampai jumpa, di tahun depan..
Aku tidak memaafkan. Aku juga tidak melupakan, segala kemunafikan yang terus akan terulang di tiap tahunnya.
“Mandi gih..” ucap Mas E.
“Iya, nanti aja.” balasku singkat. “Itu namanya apa ya Mas? Saya lupa.”
“Eskavator.” jawabnya.
Terus kupandangi alat berat tersebut mengeruki tanah yang ada di depannya, yang menurutku akan menjadi septictank gedung di hadapanku yang masih dalam tahap pembangunan.
Mesin itu terus mengeruk, hingga lapisan tanah mencapai warna gelapnya. Sementara beberapa meter di depannya, manusia-manusia miskin terus mencangkul tanah untuk proyek yang lebih kecil; ada yang dengan pacul, ada pula yang menggunakan kedua tangannya.
(Continued)
Untuk Elis, yang telah memanipulasi imajiku.
Untuk Molly, Ocha, mungkin juga Ella, Tika, dan Eru,
yang telah sudi mendengarkan.
Dan untuk Firda; yang telah menyerah;
bersiap menjadi seorang ibu,
di usianya kini yang belia.
“Nomer lama?”
“Iya. Kok tau?”
“Dulu kan aku hafal nomer kamu ini. Jadi agak inget gitu deh..”, jelasnya.
~
“Kenalin dong sama pacarnya..”
“Aku gak punya pacar.”
“Masa? Kenapa? Belum ketemu yang cocok?”, tanyaku tak sabar.
“Iya. Bukan masalah cocok atau gak cocoknya gitu.. Gak ada niat ajah buat pacaran lagi.”
“Lah, kok bisa?”
“Gak penting kok pacaran..”
“Haha.. Terus, langsung nikah aja gitu tanpa pengenalan yang mendalam melalui pacaran?”
“Gak niat juga buat itu.”, jawabnya ringan. (Continued)
Seperti biasa, kekonyolan Jap membuat ku tertawa.
Malam itu, tiada hentinya dia menjadikan Kes bahan lelucon sebagai nina-bobo kami. Disamping itu memang merupakan salah satu hobinya belakangan ini, ku rasa kekalahannya dalam berjudi beberapa saat sebelumnya akibat tantangan Kes adalah faktor pendorong Jap begitu antusias membuat kami menertawakan Kes saat itu.
“Kita jujur-jujuran ayo.. Demi nama owloh ya! Berani gak lu?”, tantang Jap pada Kes.
“Selama disini udah pernah coli belum lu?!” (Continued)
Entah sudah berapa lintingan ganja kering dan kantung miras oplosan yang habis. Yang pasti, kami sudah cukup mabuk. Kami mulai asyik masing-masing. Ada yang masih lanjut mengobrol sekalipun menurut pengamatanku, gak nyambung; sibuk dengan ponselnya, dan menonton tivi.
Aku sendiri memilih merebahkan tubuh di kasur, bergabung dengan mereka yang sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola di tivi yang berada tepat di depanku.
Bisa dibilang sepakbola adalah olahraga terfavorit di planet ini. Namun entah mengapa, aku tidak pernah dapat benar-benar menyukainya. Meski begitu, aku juga tidak benar-benar membencinya. (Continued)
Aku tak tahu sejak kapan tepatnya si bapak duduk menanti di sana. Di atas vespa birunya, di pinggir jalan di depan sebuah rumah makan, seorang diri. Dengan barang bawaan disusun sedemikian rupa agar dapat dibawa dengan vespanya tersebut.
Ada semacam tripod disana.
Berdasarkan informasi dari temanku, si bapak sudah di sana selama 1-2 jam. Menanti si pemilik rumah makan rupanya.
Tak lama sebelum ia tiba, si pemilik rumah makan baru saja pergi. Dan tripod yang ku lihat sepertinya semacam rangka tenda untuk makan, seperti tenda yang biasa kita jumpai di pelataran tempat makan kaum urban. Jadi itu penyebab si bapak tersebut di sana. (Continued)
Untuk para orangtua yang membanggakan
almamater dan status sosial anaknya.
Mungkin juga untuk kamu, KTM,
dan kartu identitas perusahaanmu.
Pernahkah sekali saja terlintas dalam pikiranmu, “Untuk apa (ada) sekolah”? Untuk apa orangtua bekerja keras mencari uang untuk membiayai sekolah anaknya?
“Sekolah lah setinggi mungkin, agar semakin banyak ilmu yang kau dapat..” hanyalah sekedar klise bagiku. Kenyataannya yang berlaku adalah, “Sekolah lah setinggi mungkin, agar semakin tinggi jabatanmu saat bekerja, maka semakin tinggi gaji yang kau terima.” Semakin tinggi tingkat pendidikan yang diambil seseorang untuk pekerjaannya kelak, semakin tinggi pula biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan pendidikan tersebut. Semacam pembalasan, atau investasi? (Continued)
Siang tadi aku terbangun, bukan hanya karena lapar yang memang sering membangunkanku. Dengan sisa-sisa alkohol di kepala, aku mencoba beradaptasi dengan keramaian yang tak biasanya hadir di rumahku.
Beberapa orang yang tidak ku kenal, beberapa adik sepupuku, ayahku, dan tiga orang pamanku. Pakaian mereka rapi. Acara formal, pikirku.
Namun, aku sempat heran. Tidak ada satu pun bibiku yang hadir di sana. Tidak perlu waktu lama bagiku untuk memahami apa yang tengah berlangsung. Berkat pengalamanku dalam keluarga belakangan, aku berspekulasi bahwa mereka tengah membahas acara lamaran kakak perempuan tertuaku.
Ya, aku hanya menduga. Karena memang aku tidak tahu sama sekali mengenai acara tersebut. Karena memang tidak ada yang memberitahuku. Tidak. Dan aku tidak peduli sebenarnya.
Disamping pembicaraan ayah dan kakakku belakangan seputar rencana pernikahannya, faktor lain yang membuatku berasumsi demikian adalah patriarki. Keluargaku berasal dari salah satu suku yang cukup kental patriarkalnya. Bagiku itu sudah cukup menjelaskan perihal ketidakhadiran satupun bibiku di acara keluarga seperti itu.
Saat tulisan ini dibuat pun aku masih belum tahu, apakah absennya figur bibi dalam acara tersebut adalah bagian dari adat atau tidak. Yang terpenting, dugaanku tepat.
Saturday, January 26, 2013
Halte “Sekolahan”, Gunung Sahari – Jakarta Pusat
22 Januari 2013, sekitar pukul 4 sore.
Terpaksa kami harus berteduh karena gerimis secara mendadak berubah menjadi hujan yang begitu lebat. Sial, pikirku. Namun jelas, lebih sial mereka yang rumahnya masih tergenang air akibat banjir yang melanda Jakarta beberapa hari sebelumnya, yang salah satu titiknya kami lewati tadi.
Kami bergabung bersama seorang pria yang terlihat berumur 30-an. Penampilannya biasa. Menggunakan topi, kaos, celana selutut, sendal jepit. Seorang pria yang lebih tua tiba (sekitar awal 40 tahun mungkin) dengan kantung barang di kedua sisi sepeda motornya. Diangkatnya kantung barang itu dengan bantuan si pria muda, lalu diletakkan di atas gerobak yang ternyata berada tepat di belakangku. Lalu mereka mengobrol, yang aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Entah itu percakapan antar teman atau basa-basi perkenalan. Deru hujan dan pemandangan jalanan di depanku mengalahkan kemampuan telingaku untuk menguping. Awalnya aku menduga bahwa mereka saling kenal. Bahwa si bapak adalah pedagang yang baru pulang berbelanja barang dagangan, si empunya gerobak. Bahwa si pria muda adalah karyawannya. (Continued)