Skip to content

Pelukan yang terbuang

Rintik hujan masih belum berhenti sepenuhnya. Kami lanjutkan menghisap dalam-dalam rokok kami di dalam hangatnya warkop dengan kopi, teh, dan gorengan dihadapan kami. Entah sudah berapa menit aku asyik memandangi tetes air di luar, Dia mengagetkanku..

Entah darimana dirinya. Namun Dia kembali memasuki petak kecil warkop bersama seorang bocah, sekitar 7-10 tahun. Entahlah, aku tak begitu pandai mereka-reka usia. Yang jelas, wajahnya tak asing bagiku.

Bocah tersebut ternyata anak jalanan yang memang tinggal dan bekerja di sekitar sini. Dia melihatnya sedang meringkuk dan menggigil di pelataran sebuah ruko kecil yang telah tutup, beberapa meter dari warkop tempat kami singgah. Dia menjelaskan padaku selagi si bocah menyeruput susu hangat, lalu mengakhiri pembicaraan dengan tatapan pedih pada si bocah. (Continued)

Ode untuk alkohol

Seperti stimulan memabukkan lainnya, aku suka alkohol. Minuman beralkohol tepatnya, atau yang biasa disebut dengan miras (minuman keras). Mereka membantuku untuk merasa senang dan tenang. Sementara orang-orang ‘sehat’ berkata, “Apa kamu tidak bisa merasa bahagia tanpa barang-barang tersebut?”, aku tak peduli. Persetan.

Pada hakikatnya, alkohol memiliki manfaat medis. Tentu tidak sulit mencari referensi atas asumsiku barusan. Sudah banyak pula laporan yang menyatakan bahwa vodka berhasil menyelamatkan hewan peliharaan dari keracunan cairan pembersih lantai dan sejenisnya.

Selain itu, alkohol dapat menambah semangat dan gairah, kepercayaan diri dan keberanian. Itulah yang menyenangkan. (Continued)

Gadis mungil di perayaan Natal

Malam itu acara sekolah perayaan Natal 2008. Seperti kebiasaanku tiap masuk sekolah kala itu, datang terlambat.

Berdua dengan temanku, kami memasuki aula sekolah melalui pintu belakang disertai tatapan sinis beberapa guru dan orangtua murid yang juga hadir, dan cengiran menyebalkan dari beberapa teman yang sudah hadir.

Kami duduk beberapa baris dari deretan kursi belakang sebelah kiri ruangan. Lantas kami beradaptasi dengan suasana damai yang kaku yang biasa terasa di acara-acara serupa. (Continued)

Sepi

“Sometimes anti-social,
but always anti-racist.”
~ Combat 34.

Ada saatnya bagi seseorang menjadi seorang anti-sosial, bahkan tanpa disadarinya.

Kesendirian. Itulah yang kita inginkan kadang, akuilah..

Ada saatnya, kita ingin sendiri dan larut dalam sepi. Membaca sebuah buku ataupun status teman di sosial media, mendengarkan lagu kesukaan dengan volume rendah, berkontemplasi, atau bahkan sekedar mengkhayal.

Ada saatnya, kita membutuhkannya. Bukan guyon teman, belaian nakal kekasih, atau basa basi dengan tetangga.

“Manusia berlalu-lalang, terlihat neraka bernyawa.
Tegas aku berkumandang, menyendiri adalah surga..”
~ Sejarah Filsafat Barat, Senartogok


Disunting pada 10 Februari 2018.

 

Bagiku, agamamu..

Bagimu agamamu, bagiku itu palsu.
Bagimu agamamu, bagiku nanti dulu..

Bagimu agamamu, bagiku cuma nyaru.
Bagimu agamamu, bagiku silit mambu.

Bagimu agamamu, bagiku tak beda dengan candu.

Bagimu agamamu, bagiku jelas tiran.

Bagimu agamamu, bagiku pembodohan.

Bagimu agamamu, bagiku murni racun.

Bagimu agamamu.
Bagiku, tidak perlu.

Bagiku, sebutir peluru
yang ditembakkan tepat di jantungmu;
agamamu.

Bagiku kamu dungu.

Bagiku, kamu babu;
selagi Tuhanmu merangkap Tuanmu.